Industri gerabah keramik di Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta saat ini bisa dikatakan telah berhasil. Kualitas gerabah kramik berbahan baku tanah liat itu telah diakui oleh berbagai negara di dunia.
Ribuan eskpor ke berbagai negara di benua Asia, Amerika dan Eropa membuktikan jika kualitas keramik Plered tak bisa dipandang sebelah mata.
Namun jauh sebelum itu tidak banyak yang tahu pertama kali industri keramik Plered berkembang di daerah ini.
Staf UPTD Litbang Kramik Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jujun Junaedi menceritakan pertama masuk keramik di Plered pada 1904. Pada waktu itu warga membuat segumpal tanah agar dapat difungsikan.
Bukti dari sejarah itu berdirinya gedung tua menyerupai pabrik yang berlokasi di Jalan Raya Plered. Setelah adanya gedung tua itu warga mulai tertarik membuat gerabah keramik.
“Dulu saat pertama masuk bahan keramiknya itu tanah putih, namun setelah dilakukan penelitian dan lainnya ternyata tanah liat di Plered juga bisa digunakan, di situlah tanah liat berwarna coklat asal Plered menjadi bahan baku gerabah keramik Plered,” ujar Jujun, Senin (1/12/2025).
Pabrik yang di bangun pada tahun 1950 lalu itu di resmikan Wakil Presiden RI pertama, Mochammad Hatta sebagai sanggar belajar bagi pengrajin keramik.
Meski keberadaannya tidak sebagus tempo dulu, namun bangunan itu sehari-harinya tetap digunakan dan di fungsikan sebagai tempat produksi gerabah keramik.
“Iya bangunan itu diresmikan oleh Pak Hatta sekitar tahun 1950 sebagai tempat sanggar para pengrajin pemula warga sekitar,” kata Jujun.
Tampak depan bangunan bagian atas membentuk dinding tinggi bertuliskan “Induk Perusahaan Keramik “Plered”.
Sementara, di bagian belakang bangunan, dua cerobong asap menjulang setinggi kurang lebih 5 meter. Di bawahnya, ada enam tungku perapian tempat pembakaran gerabah dibangun oleh orang asing.
Bangunan itu hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat produksi kerajinan tangan gerabah keramik Plered. Para pengrajin masih tetap mempertahankan membuat gerabah kramik manual.
“Gedung tua itu merupakan gedung paling bersejarah atas perkembangan keramik di Plered, pengelolaan gedung itu di bawah Provinsi Jawa Barat,” ujar Jujun.
Ia mengatakan, hingga saat ini gerabah keramik semakin dikenal hingga ke mancanegara. Gerabah keramik ini sebagian besar mata pencaharian warga Desa Anjun. “Gerabah keramik ini warisan nenek moyang, harus kita jaga keasliannya,” kata dia.







