Daerah

Menguak Jejak Sakral Eyang Dalem Gandasoli Penjaga Tanah Purwakarta

98
×

Menguak Jejak Sakral Eyang Dalem Gandasoli Penjaga Tanah Purwakarta

Sebarkan artikel ini
Makam Eyang Dalem Gandasoli
Makam Tokoh Legenda Kabupaten Purwakarta, Eyang Dalem Gandasoli

Banyak wisata religi di Kabupaten Purwakarta kerap ramai dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar kota.

Salah satunya adalah makam Eyang Dalem Gandasoli berlokasi di perbatan Kecamatan Plered dan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Berikut ringkasan singkat Eyang Gandasoli.

Siapa itu Eyang Dalem Gandasoli

Nama aslinya konon adalah Warganata, berasal dari Cirebon beliau disebut sebagai santri pada masa para wali di Tanah Jawa.

Ia kemudian datang ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Gandasoli bersama istri bernama Nyi Mas Gandasari lalu menetap di sana bersama para santrinya: antara lain Eyang Kuncen, Ki Patih Sasengko, Eyang Jaksa, Eyang Camat, dan lain-lain.

Meski banyak detail kehidupan dan perjuangannya tidak tercatat secara lengkap, tradisi lokal menyebutnya sebagai tokoh penyebar agama Islam di daerah Purwakarta.

Asal Usul Nama “Gandasoli” dan Cerita Legenda

Konon, nama “Gandasoli” berasal dari sungai atau kali bernama sama di kawasan itu. Menurut satu versi cerita, pada era dulu ada seorang saudagar dari bangsa Arab menurut kisah yang singgah di muara lalu menyuruh seseorang bernama “Si Ganda” untuk sholat. Tempat itu kemudian terkait dengan nama “Gandasoli.”

Namun versi yang lebih populer di masyarakat menyebut bahwa sekitar tahun 1628 datang seorang panglima (atau tokoh dari Mataram) bernama Raden Surya Sumadita Angga Yuda, yang kemudian dikenal sebagai Eyang Dalem Gandasoli, bersama pasukannya.

Mereka dikisahkan akan menuju Batavia (Jakarta sekarang) untuk menghadapi pasukan VOC. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka sempat singgah di suatu tempat bernama “Lembur Kolot” yang sekarang masuk Desa Mekarsari, Kecamatan Darangdan.

Oleh karena itu, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Gandasoli diambil dari nama sungai atau daerah sekaligus sebagai penghormatan terhadap sosok Eyang.

Makam dan Peninggalan

Makam Eyang Dalem Gandasoli terletak di Kampung Lembur Kolot, Desa Mekarsari, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.

Kompleks makam ini kini dikategorikan sebagai situs cagar budaya. Peninggalan yang diyakini milik Eyang dan para santrinya termasuk tasbih, jubah, kitab, dan sejumlah benda kuno lainnya disimpan oleh keturunan atau ahli waris yang berdiam di Kampung Cipeucang, Desa Gandasoli.

Namun, pemeriksaan terhadap benda-benda ini umumnya dibuka kepada publik hanya pada waktu-waktu tertentu (misalnya bulan Mulud ataubRabiul Awal).

Di dekat makam terdapat sumber air jernih (kadang disebut “sumur karamah”) yang menurut cerita dulu sering dipakai Eyang Dalem Gandasoli dan para santrinya untuk berwudhu. Airnya tetap jernih bahkan saat musim kemarau.

Peran dan Makna dalam Masyarakat Purwakarta

Masyarakat lokal memandang Eyang Dalem Gandasoli sebagai tokoh spiritual dan penyebar Islam di wilayah Gandasoli, Purwakarta.

Makam beliau menjadi tempat ziarah dan penghormatan bagi banyak orang baik dari dalam maupun luar daerah.

Kompleks makam sempat dikembangkan sebagai destinasi “wisata religi” oleh pemerintah dan masyarakat setempat, dengan fasilitas dasar dan pengelolaan warisan lokal.

Karena status cagar budaya, makam ini juga punya nilai historis. Selain sebagai warisan spiritual, situs ini dianggap penting untuk menelusuri jejak penyebaran Islam lokal dan keberlanjutan tradisi leluhur di Purwakarta.

Catatan dan Misteri

Meskipun banyak cerita dan tradisi lisan, secara dokumen tertulis terutama mengenai tanggal lahir, tanggal wafat, dan rincian kehidupan Eyang Dalem Gandasoli banyak yang tidak tercatat dengan jelas.

Misalnya sebagian besar makam (termasuk makam beliau) tidak memiliki nisan bertuliskan nama, tempat dan tanggal lahir atau wafat seperti lazimnya makam.

Karenanya, sebagian besar “sejarah” Eyang Dalem Gandasoli banyak bersandar pada tradisi lisan, cerita turun-temurun, serta interpretasi masyarakat.

Penelitian lebih lanjut seperti analisis naskah kuno, artefak, atau catatan lokal bisa membantu memperjelas fakta historis. (Dede)