DaerahUncategorized

SSC Garut Peringati Hari Pohon Sedunia dengan Aksi Nyata

63
×

SSC Garut Peringati Hari Pohon Sedunia dengan Aksi Nyata

Sebarkan artikel ini
Gerakan Peduli Lingkungan SSC Garut
Gerakan Peduli Lingkungan SSC Garut

Dalam rangka memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia, Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) Garut menggelar aksi bersih-bersih dan penanaman pohon di areal Teras Sungai Cimanuk, tepatnya di sekitar Tugu Peringatan Tragedi Banjir Bandang Lapang Paris, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian SSC terhadap kelestarian lingkungan sekaligus upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat.

Gerakan Lingkungan di Awal Tahun 2026

Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan langkah awal SSC di awal tahun 2026 untuk mendorong kesadaran publik tentang pentingnya menjaga alam. Menurutnya, menanam dan merawat pohon bukan hanya simbol peringatan, tetapi tindakan konkret untuk merespons krisis lingkungan dan perubahan iklim yang semakin nyata.

“Dengan menanam pohon, kita membantu menyerap karbon, menghasilkan oksigen, serta menjaga keseimbangan lingkungan alam,” ujar Mulyono. Ia menegaskan, pohon memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Momentum Hari Sejuta Pohon Sedunia

menambahkan, Hari Sejuta Pohon Sedunia yang diperingati setiap 10 Januari memiliki nilai historis dan strategis. Gerakan ini pertama kali dicanangkan oleh Presiden Soeharto pada 10 Januari 1993 sebagai upaya mengatasi deforestasi dan degradasi lahan. Momentum ini, kata dia, perlu terus dihidupkan agar masyarakat semakin peduli terhadap kelestarian alam.

“Menanam pohon adalah investasi jangka panjang untuk mencegah banjir, longsor, serta mengurangi dampak perubahan iklim,” ungkapnya.
Perawatan Tugu Bencana Banjir Bandang Cimanuk

Selain penanaman pohon, SSC juga melakukan pembersihan area tugu peringatan banjir bandang Sungai Cimanuk yang terjadi pada 20 September 2016. Saat ini, kawasan tersebut dipenuhi lumut, rumput liar, dan sampah sehingga tampak kumuh dan kurang terawat.

Mulyono menyayangkan kondisi tugu yang dibangun dengan biaya besar namun minim perawatan. “Apa artinya tugu megah jika tidak dijaga? Padahal, tugu ini pengingat agar manusia mencintai alam. Jika kita menjaga alam, alam pun akan menjaga kita,” tegasnya.

Edukasi dan Mitigasi Bencana Berkelanjutan

SSC berkomitmen melakukan penanaman pohon secara bertahap di kawasan Teras Cimanuk guna menjaga ekosistem sungai dan meminimalisir risiko bencana. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari sosialisasi mitigasi bencana yang diikuti oleh 42 perwakilan Kampung Siaga Bencana (KSB) se-Kabupaten Garut.

“Ini bukan kegiatan seremonial. Kami ingin membangun kesadaran kolektif agar masyarakat hidup lebih selaras dengan alam,” pungkas Mulyono.