BANDUNG – Banjir yang merendam Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, kembali menegaskan ancaman cuaca ekstrem yang belum reda di wilayah Bandung timur. Dalam sepekan terakhir, bencana hidrometeorologi itu tercatat telah berdampak ke 13 kecamatan, memaksa pemerintah daerah memperkuat respons darurat di lapangan.
Genangan air menutup halaman rumah warga hingga akses jalan lingkungan di Desa Sukamanah, termasuk kawasan Jalan Yasaadi. Aktivitas warga terganggu, sementara kebutuhan logistik dan layanan kesehatan menjadi prioritas utama.
Bupati Bandung Dadang Supriatna turun langsung ke lokasi pada Rabu (15/4/2026) untuk memastikan penanganan warga terdampak berjalan optimal.
Di lokasi, Dadang memantau dapur umum yang terus memasok kebutuhan makanan warga serta memastikan tim kesehatan tetap siaga untuk mengantisipasi penyakit pascabanjir.
“Pelayanan bagi warga harus berjalan optimal. Kebutuhan dasar dan layanan kesehatan tidak boleh terputus,” tegas Dadang.
Selain banjir, cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir juga memicu angin puting beliung di sejumlah titik Kabupaten Bandung.
Hasil pendataan sementara pemerintah daerah mencatat sekitar 65 rumah mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang, sehingga membutuhkan perbaikan segera.
Dadang mengingatkan ancaman cuaca ekstrem masih berpotensi berlangsung hingga akhir April, sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi curah hujan masih tinggi.
Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir dan dekat bantaran sungai.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada sejumlah titik rawan jebol tanggul seperti Panyadap dan Bojong yang kerap menjadi sumber limpasan air ke permukiman warga.
Pemkab Bandung kini membentuk tim pentahelix bersama tujuh kecamatan untuk mempercepat penanganan banjir, mulai dari evakuasi, distribusi logistik, hingga langkah mitigasi jangka menengah.
Sementara itu, Kepala Desa Sukamanah Dede Rahim menyebut dukungan relawan dan pemerintah sangat membantu warga bertahan di tengah situasi darurat.
“Kami terus menyiapkan dapur umum untuk warga terdampak agar kebutuhan makan tetap terpenuhi,” ujarnya.
Dengan curah hujan yang masih tinggi, banjir Rancaekek dikhawatirkan belum menjadi yang terakhir. Fokus utama kini bergeser pada percepatan normalisasi titik rawan serta perlindungan warga dari dampak kesehatan dan kerusakan lanjutan.








