Prahara di pasar modal Indonesia akhirnya memakan korban. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Imran Rahman, resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Jumat pagi, di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu trading halt berulang dalam dua hari terakhir.
Pengunduran diri Imran terjadi setelah IHSG terperosok tajam dan berulang kali menyentuh batas penurunan ekstrem, memaksa otoritas bursa menghentikan perdagangan demi meredam kepanikan pasar.
Dalam pernyataan singkatnya kepada publik, Imran menegaskan bahwa langkah mundur tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral atas kondisi pasar modal nasional.
“Saya berharap ini yang terbaik untuk pasar modal. Semoga dengan pengunduran diri saya, pasar modal kita bisa menjadi lebih baik,” ujar Imran.
Ia menegaskan tidak akan membuka sesi tanya jawab dan memilih menyerahkan sepenuhnya proses transisi kepemimpinan kepada mekanisme internal BEI.
“Saya percaya ini bentuk tanggung jawab saya. Mudah-mudahan indeks kita yang dibuka pagi ini membaik dan terus membaik ke depan,” katanya.
Imran juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama masa jabatannya terdapat kebijakan atau langkah yang kurang berkenan bagi para pelaku pasar.
Menutup pernyataannya, Imran memastikan seluruh proses administrasi pengunduran diri akan berjalan sesuai anggaran dasar perusahaan. Untuk sementara, BEI akan menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama hingga ditetapkan pimpinan definitif yang baru.
Pengunduran diri orang nomor satu di BEI ini menandai babak baru krisis kepercayaan pasar, di tengah tekanan global, aksi jual masif investor, serta sorotan tajam terhadap tata kelola dan stabilitas pasar modal Indonesia.






