Suasana haru menyelimuti GOR Desa Sukaraja, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (31/1/2026). Di tempat pengungsian itu, Anggota DPD RI asal Jawa Barat, Aanya Rina Casmayanti, tak kuasa menahan air mata saat mendengar langsung kisah para korban selamat bencana longsor Pasirlangu.
Didampingi Jihan Fahira, Teh Aanya duduk berhadapan dengan para pengungsi yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga. Satu per satu cerita pilu disampaikan. Tangis pun pecah. Pelukan menguatkan menjadi bahasa yang paling jujur di tengah duka.
“Ya Allah, yang sabar ya Bu. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ucap Teh Aanya dengan suara bergetar, sembari menggenggam tangan seorang ibu korban longsor.
Sebelumnya, Teh Aanya bersama tiga anggota DPD RI lainnya — Jihan Fahira, Komeng, dan Agita — mengunjungi lokasi longsor dan sejumlah titik pengungsian. Di Masjid Jami Nurul Iman Kampung Sukaraja, anak-anak korban longsor menyambut rombongan dengan alunan musik angklung, seolah menjadi penguat di tengah trauma.
Teh Aanya tampak berbaur tanpa sekat. Ia bermain angklung bersama anak-anak, berdialog dengan para orang tua, dan berulang kali menyampaikan bahwa para korban tidak sendirian menghadapi musibah ini.
“Kami DPD RI datang menyampaikan belasungkawa. Bapak, ibu, dan anak-anak sekalian tidak sendiri. Banyak yang siap membantu, termasuk kami,” ujarnya.
Komeng pun mencairkan suasana dengan memimpin permainan sederhana “tepuk ular”, menghadirkan tawa kecil di tengah duka. Sementara Agita menegaskan bahwa bantuan yang dibawa diharapkan dapat meringankan kebutuhan darurat selama masa pengungsian.
Di hadapan para korban, Jihan Fahira mengajak untuk tetap sabar dan bersandar pada kekuatan iman.
“Sholat tetap wajib dalam kondisi apa pun. Jangan sampai kita jauh dari pertolongan Allah,” tuturnya lembut.
Pemandangan longsor di lereng Gunung Burangrang meninggalkan kesan mendalam bagi Teh Aanya. Dari puncak hingga kampung di bawahnya, tanah runtuh membentuk luka panjang sejauh kurang lebih tiga kilometer. Rumah, sawah, motor, bahkan mobil ikut tergulung material longsor.
Sebelumnya di Balai Desa Pasirlangu, rombongan DPD RI memberikan bantuan berupa Rp 50 Juta uang tunai dan kebutuhan pokok senilai Rp 50 Juta juga.
Hari itu ditutup dengan doa, air mata, dan pelukan. Bagi Teh Aanya, kunjungan ke Pasirlangu bukan sekadar agenda resmi, melainkan panggilan nurani untuk hadir, mendengar, dan menguatkan — langsung di tengah rakyat yang sedang diuji oleh bencana.








