Musisi Maluku, Fresly Nikijuluw kembali menyentuh ruang emosi pendengarnya lewat single terbaru berjudul Cinta Seng Pasti. Lagu ini menghadirkan kisah getir tentang cinta yang tidak pernah benar-benar dimiliki, tetapi harus dijalani dengan kesadaran penuh akan kekalahan.
Lagu yang diciptakan Levinus Kariuw itu dirilis di platform YouTube dan telah ditonton sebanyak 7.836 kali dalam 11 jam sejak peluncurannya. Melalui balutan musik melankolis dan lirik yang jujur, Fresly membawa pendengar masuk ke dalam konflik batin seorang lelaki yang hidup dalam pernikahan tanpa keutuhan cinta.
Narasi Luka yang Sunyi dan Personal
Cinta Seng Pasti mengisahkan tragedi sunyi seorang lelaki yang menikahi perempuan yang secara fisik hadir bersamanya, tetapi secara batin masih terikat pada cinta masa lalu. Bukan tentang pengkhianatan yang riuh, melainkan tentang kekalahan yang diterima dengan sadar.
Sejak bait awal, lagu ini langsung menancapkan konflik emosional tokoh “beta”.
“Orang bilang cinta itu anugrah terindah, tapi for beta akang barasa perih,” menjadi pembuka yang menggambarkan ironi cinta yang seharusnya membahagiakan justru berubah menjadi sumber luka.
Lirik tersebut menegaskan bahwa bagi tokoh utama, cinta bukan lagi anugerah, melainkan beban emosional yang harus dipikul sendirian. Puncak kesadaran pahit itu muncul saat ia menyadari bahwa hati perempuan yang ia cintai masih milik orang lain.
“Ale pung mata bicara, masih ada dia yang ale cinta.”
Kalimat sederhana itu menyiratkan luka yang dalam, tanpa amarah atau tudingan, hanya pengakuan bahwa dirinya hanyalah pengganti, bukan tujuan akhir.
Refrein sebagai Inti Tragedi
Bagian refrein menjadi inti emosi lagu ini.“Beta sadar hanya tampa singgah… untuk batahang di cinta yang seng pasti ini.”
Ungkapan “tampa singgah” menggambarkan posisi tokoh utama sebagai persinggahan sementara dalam kehidupan sang perempuan. Ia bertahan bukan karena kepastian, tetapi karena perasaan yang terlanjur tumbuh.
Tema “salah waktu” juga menjadi benang merah lagu ini. Tokoh lelaki menyadari perasaannya hadir di saat yang keliru.
“Ini cuma salah rasa beta, yang jatuh di tampa deng waktu yang salah.”
Pesan ini terasa relevan bagi banyak pendengar: tidak semua cinta gagal karena kurang usaha, tetapi karena hadir di waktu yang tidak tepat. Perempuan yang dicintainya telah membangun benteng perasaan yang terlalu kuat untuk orang lain, membuat cintanya tak pernah benar-benar memiliki ruang.
Bahasa Lokal dan Kedekatan Emosional
Secara emosional, Cinta Seng Pasti bukan lagu kemarahan, melainkan lagu penerimaan. Tokoh utama tidak sepenuhnya menyalahkan perempuan yang dicintainya, melainkan dirinya sendiri karena jatuh cinta pada seseorang yang belum selesai dengan masa lalu.
Kalimat “Beta yang kalah” yang diulang di bagian akhir menjadi simbol kekalahan yang sunyi—bukan karena pertarungan sengit, tetapi karena cinta yang sejak awal tak pernah benar-benar dimulai.
Dengan penggunaan bahasa lokal Maluku yang lugas dan kuat, Fresly Nikijuluw berhasil menghadirkan kisah yang terasa dekat dengan kehidupan nyata. Lagu ini menjadi cermin bagi banyak orang yang pernah mencintai tanpa kepastian, bertahan dalam harapan, lalu menyadari bahwa harapan itu tak pernah menemukan rumah.
Cinta Seng Pasti menegaskan satu pesan penting: cinta tanpa kepastian hanya akan melahirkan luka yang terus diperpanjang. Sebuah pengakuan jujur tentang keberanian mencintai, sekaligus kesiapan menerima kenyataan ketika cinta datang di waktu yang salah.




