TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sistem pertahanan rudal milik Washington di kawasan Teluk dalam serangan presisi yang dilakukan pasukan dirgantaranya.
Melalui media resmi IRGC, Sepah News, Senin (2/3/2026), pasukan Iran disebut berhasil menghantam sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik AS yang ditempatkan di Asia Barat.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sistem anti-rudal tersebut dihancurkan menggunakan rudal berpemandu presisi yang menargetkan fasilitas pertahanan Amerika di kawasan.
Selain menghancurkan baterai THAAD, Iran juga mengklaim berhasil melumpuhkan radar peringatan dini yang terhubung dengan sistem tersebut di sebuah pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab.
Menurut laporan Defense Security Asia, radar yang berada di pangkalan Al-Ruwais dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat serangan tersebut.
Kerusakan itu disebut membuat sistem pertahanan rudal AS kehilangan sebagian kemampuan deteksi dan pencegatan terhadap rudal balistik.
IRGC bahkan menyatakan serangan presisi yang dilakukan pasukan dirgantara mereka membuat baterai THAAD kedua milik Amerika keluar dari “orbit operasional”.
“Dengan hancurnya simbol pertahanan bernilai tinggi tersebut, jalur rudal Iran kini lebih terbuka untuk menghantam target secara efektif,” demikian pernyataan IRGC.
Sejumlah citra satelit yang beredar di media internasional juga memperlihatkan area hangus dan puing-puing di lokasi yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem pertahanan Amerika di kawasan Teluk.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik besar antara Iran dan blok Barat di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara gabungan yang menargetkan sejumlah fasilitas di Teheran dan kota lain di Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, beberapa anggota keluarganya, serta sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi konflik yang lebih luas di kawasan strategis tersebut. Para analis menilai, jika eskalasi terus meningkat, stabilitas keamanan dan jalur energi global di kawasan Teluk berpotensi terganggu. (Sumber: Youtube Kompas TV)




