LONDON – Serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel membuka babak baru dalam peperangan modern. Bukan dengan rudal mahal, melainkan lewat gelombang drone murah jenis Shahed 136 yang kini terbukti efektif mengguncang kawasan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan meluncurkan ribuan drone ke berbagai target, mulai dari pangkalan militer hingga infrastruktur sipil di negara-negara Teluk. Serangan ini menjadi respons atas serangan udara sebelumnya yang dilakukan AS dan Israel.
Drone Shahed 136 dikenal sebagai “drone bunuh diri” yang terbang rendah, lambat, namun mematikan. Dengan panjang sekitar 3,5 meter dan bentang sayap 2,5 meter, drone ini diprogram untuk langsung menabrak target dan meledak saat kontak.
Sejumlah rekaman yang beredar menunjukkan serangan ke fasilitas strategis, termasuk pangkalan militer di Bahrain serta area sipil di Dubai. Bahkan, beberapa target diduga meleset akibat sistem navigasi yang telah diprogram sebelumnya tanpa koreksi di tengah jalan.
Namun kekuatan utama Shahed bukan pada kecanggihannya, melainkan pada kesederhanaan.
Drone ini dibuat dari komponen komersial yang mudah diperoleh di pasar terbuka. Dengan biaya produksi sekitar 35 ribu dolar AS per unit, Iran mampu memproduksi ratusan drone setiap pekan dan menyimpannya dalam jumlah besar sebelum konflik pecah.
Bandingkan dengan rudal jelajah seperti Tomahawk yang bernilai lebih dari 2 juta dolar per unit, atau sistem pertahanan seperti Patriot missile system yang membutuhkan biaya lebih dari 1 juta dolar untuk satu kali pencegatan.
Ketimpangan biaya inilah yang kini menjadi ancaman serius.
Iran dapat meluncurkan ribuan drone murah, sementara AS dan sekutunya harus menggunakan rudal mahal untuk menembaknya satu per satu. Dalam jangka panjang, skenario ini berpotensi menguras stok pertahanan Barat lebih cepat dibanding kemampuan produksi ulangnya.
Selain itu, karakteristik Shahed yang terbang rendah, berbahan sederhana, dan diluncurkan dari platform fleksibel seperti truk sipil membuatnya sulit dideteksi radar konvensional.
Sering kali, satu-satunya peringatan bagi target adalah suara mesin drone yang mendekat—memberi waktu sangat terbatas untuk merespons.
Para analis militer menilai, fenomena ini menandai perubahan paradigma perang modern: dari perang teknologi tinggi menjadi perang efisiensi biaya.
Jika tren ini berlanjut, dominasi militer tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan semata, melainkan oleh kemampuan memproduksi senjata dalam jumlah besar dengan biaya rendah.
Dengan kata lain, Iran mungkin tidak perlu memenangkan perang secara langsung—cukup membuat lawan kehabisan amunisi. (Sumber : Youtube Daily Mail)








