TEHERAN – Iran menaikkan tensi diplomasi pascaperang dengan menjadikan kompensasi perang 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,6 kuadriliun sebagai salah satu syarat utama menuju perdamaian dengan Amerika Serikat dan Israel. Nilai fantastis itu kini menjadi kartu tawar utama Teheran dalam setiap jalur negosiasi internasional. (Al Jazeera)
Pemerintah Iran menegaskan angka tersebut masih berupa estimasi awal, namun sudah cukup menjadi dasar resmi untuk mendorong pembahasan reparasi perang dalam forum diplomasi, termasuk perundingan yang sempat berlangsung di Islamabad, Pakistan. (presstv.ir)
Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan proses penghitungan kerugian masih terus berjalan dan sangat mungkin bertambah.
“Kerugian biasanya harus diperiksa dalam beberapa lapisan,” ujarnya seperti dikutip kantor berita Rusia RIA Novosti.
Tahap awal perhitungan difokuskan pada kerusakan fisik akibat serangan, mulai dari bangunan publik, kawasan industri, fasilitas usaha, rumah warga, hingga properti komersial. Setelah itu, pemerintah akan menghitung kerugian tidak langsung seperti gangguan aktivitas ekonomi nasional, turunnya produksi, serta hilangnya pendapatan negara. (Vanguard News)
Tidak hanya kerusakan material, Iran juga memasukkan aspek kemanusiaan dalam nilai kompensasi. Pemerintah menilai korban jiwa warga sipil, kerusakan sekolah, rumah sakit, dan kawasan permukiman menjadi bagian tak terpisahkan dari tuntutan tersebut. (Al Jazeera)
Isu reparasi perang ini menjadi salah satu poin paling alot dalam pembicaraan damai di Islamabad. Meski perundingan 21 jam berakhir tanpa kesepakatan konkret, Teheran menegaskan tuntutan ganti rugi tidak akan dicabut. (Reuters)
Presiden Masoud Pezeshkian disebut terus menekankan bahwa perdamaian tanpa kejelasan kompensasi hanya akan melanggengkan ketidakadilan pascakonflik.
Bagi pasar global, tuntutan ini menjadi sinyal bahwa proses damai masih jauh dari kata final. Ketidakpastian atas Selat Hormuz dan rantai pasok energi dunia pun tetap membayangi, terutama setelah pembicaraan akhir pekan gagal menghasilkan terobosan. (The Washington Post)








