Internasional

Hari Pertama Perundingan AS-Iran Diwarnai Saling Uji Pengaruh

×

Hari Pertama Perundingan AS-Iran Diwarnai Saling Uji Pengaruh

Sebarkan artikel ini
Perang Iran Melawan AS-Israel
Ilustrasi : Perang Iran Melawan AS-Israel

ISLAMABAD – Hari pertama perundingan langsung Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berlangsung dalam tensi tinggi, dengan isu Selat Hormuz menjadi kartu tawar utama Teheran. Laporan ini menguat dari penjelasan jurnalis Al Jazeera, Osama Bin Javaid, yang melaporkan langsung dari Islamabad.

Disebut, kemajuan pembicaraan sangat bergantung pada seberapa jauh Iran menggunakan pengaruh strategisnya atas jalur energi dunia di Selat Hormuz.

Dalam laporannya, Jurnalis AlJazeera mennilai bahwa leverage Iran di kawasan itu menjadi faktor penentu arah negosiasi hari pertama.

“Progress may hinge on Iran’s leverage over the Strait of Hormuz,” demikian disampaikan Osama dalam laporan Al Jazeera dari lokasi perundingan.

Selain isu maritim, pembahasan juga dibayangi perkembangan negosiasi terpisah antara Israel dan Lebanon yang berpotensi memengaruhi posisi kedua delegasi.
Osama menilai hasil pembicaraan Islamabad tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan dinamika konflik regional yang lebih luas.
Hari pertama negosiasi juga disebut menjadi ajang saling uji komitmen setelah kedua negara untuk pertama kalinya duduk langsung dalam satu meja sejak 1979.

Delegasi Amerika Serikat dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dengan mediasi penuh Pakistan.

Meski belum ada kesepakatan final, suasana pembicaraan disebut tetap konstruktif meski diwarnai saling curiga.

Osama menekankan, tantangan terbesar bukan hanya substansi negosiasi, tetapi juga potensi sabotase politik dari pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian.

Karena itu, 48 jam pertama dinilai sangat krusial untuk menentukan apakah jalur diplomasi ini berlanjut atau justru kembali buntu.

Jika tidak ada terobosan pada isu Hormuz dan jaminan gencatan senjata regional, pembicaraan berisiko hanya menjadi jeda sementara dari konflik yang lebih besar.