KUWAIT CITY – Kawasan Teluk kian membara setelah gelombang serangan drone mematikan menghantam pos perbatasan strategis Abdali yang menghubungkan Irak dan Kuwait. Dua serangan udara terpisah dalam kurun waktu beberapa jam saja memaksa otoritas setempat menutup total jalur darat vital tersebut. Insiden yang melumpuhkan akses perdagangan antarnegara ini memicu kepanikan luas terkait dampak serangan drone terhadap perbatasan irak kuwait.
Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa kobaran api besar sempat berkobar di area perbatasan sebelum akhirnya berhasil dijinakkan oleh petugas pemadam kebakaran. Tim penjinak bahan peledak langsung dikerahkan ke lokasi untuk mengamankan puing-puing proyektil. Meskipun tidak ada korban jiwa, kehancuran fasilitas komersial memperparah dampak serangan drone terhadap perbatasan irak kuwait, mengingat koridor sepanjang 200 kilometer ini merupakan akses tunggal penghubung arus barang menuju pasar Teluk.
Eskalasi militer makin meluas setelah media resmi Teheran mengklaim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menggempur Pangkalan Udara Ali Al-Salem milik bersama Kuwait dan Amerika Serikat. Serangan dilaporkan turut menyasar tiga fasilitas militer lainnya, termasuk hanggar, helikopter, hingga pusat telekomunikasi. Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengecam keras aksi tersebut dan menyebut dampak serangan drone terhadap perbatasan irak kuwait kini telah mengancam keselamatan warga serta infrastruktur sipil.
Kepanikan juga menjangkau negara tetangga seperti Bahrain dan Yordania yang terpaksa mengaktifkan sirine bahaya serta sistem pertahanan udara berlapis guna mencegat histeria rudal di udara. Rentetan ledakan di berbagai titik vital ini kian mempertegas bahwa ruang diplomasi di kawasan Teluk telah beralih menjadi arena konfrontasi terbuka. Dunia kini bersiap menghadapi krisis logistik global sebagai buntut dampak serangan drone terhadap perbatasan irak kuwait.(Sumber: Al Jazeera)








