TEHERAN – Sedikitnya 20.000 warga Iran kehilangan akses air minum setelah dua waduk di Kota Sirik, Provinsi Hormozgan, rusak akibat serangan militer Amerika Serikat, Rabu (10/6).
Kerusakan infrastruktur air tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik antara Washington dan Teheran menyusul jatuhnya helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS di sekitar Selat Hormuz.
Menurut pejabat perusahaan air setempat, dua waduk yang selama ini memasok kebutuhan air warga di wilayah Beamani dan Khafustad mengalami kerusakan akibat serangan udara AS. Akibatnya, sekitar 20.000 penduduk terdampak kehilangan akses terhadap air minum yang aman.
Situasi semakin sulit karena suhu udara di wilayah tersebut dilaporkan mencapai 50 derajat Celsius. Cadangan air tanah yang tersedia dinilai tidak cukup untuk menggantikan pasokan dari waduk yang rusak.
Pejabat senior perusahaan air Provinsi Hormozgan, Abdul Hamid Hamzehpour, mengatakan pihaknya sedang berupaya mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Pemerintah Iran mengecam keras serangan tersebut dan menuding Amerika Serikat telah menyerang infrastruktur sipil.
Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain dan Yordania.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter Apache AS yang sedang berpatroli di sekitar Selat Hormuz. Dua awak helikopter berhasil diselamatkan dalam operasi pencarian yang dilakukan militer AS.
Sebagai respons atas insiden tersebut, militer AS melancarkan serangan ke sejumlah target di wilayah selatan Iran, termasuk Sirik, Minab, dan kawasan sekitar Selat Hormuz. Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan bela diri terhadap agresi Iran.








