JAKARTA – Ancaman Trump Blokade Selat Hormuz dan melanjutkan agresi militer ke Iran membuat banyak negara melakukan langkah antisipasi, bahkan hingga merubah kebijakan diplomasinya, termasuk Indonesia. Prabowo langsung terbang ke Moskow menemui Presiden Vladimir Putin, Senin (13/4).
Prabowo Subianto bergerak cepat di tengah risiko terganggunya pasokan minyak dunia.
Dalam logika geopolitik, ini bukan sekadar kunjungan bilateral biasa. Momentum keberangkatan Prabowo menunjukkan Jakarta sedang mencari sabuk pengaman energi nasional ketika jalur impor global berada di bawah ancaman serius.
Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Ketika Donald Trump melempar ancaman blokade dan membuka opsi operasi militer lanjutan, negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia otomatis harus menyiapkan skenario darurat.
Di titik inilah Moskow menjadi sangat strategis.
Rusia bukan hanya salah satu eksportir energi terbesar dunia, tetapi juga punya kapasitas memasok minyak, gas, pupuk, hingga teknologi energi jangka panjang. Sejumlah laporan menyebut agenda utama pertemuan Prabowo-Putin memang diarahkan untuk mengamankan suplai energi dan stok pupuk Indonesia di tengah ketegangan Timur Tengah.
Lebih jauh, kunjungan ini mengirim sinyal bahwa Indonesia mulai menjalankan diplomasi energi multi-poros.
Sebelum ke Rusia, Prabowo sudah aktif menjajaki kerja sama ekonomi dan energi dengan Jepang serta Korea Selatan. Kini Rusia masuk sebagai opsi realistis untuk memperkuat diversifikasi pasokan ketika pasar Teluk tidak lagi sepenuhnya aman.
Yang lebih menarik, jalur kerja sama ini tidak berhenti pada minyak mentah.
Moskow sebelumnya sudah membuka dukungan untuk pengembangan energi nuklir damai di Indonesia. Dalam konteks krisis global, isu ini bisa naik kelas dari sekadar wacana menjadi pembahasan strategis jangka panjang.
Sekali lagi, langkah Prabowo ini bisa dibaca sebagai diplomasi antisipatif, bukan reaktif.
Ia tidak menunggu harga minyak melonjak tajam atau distribusi terganggu total. Sebaliknya, ia bergerak lebih dulu mengunci opsi pasokan dan membuka pintu kerja sama energi alternatif.
Namun ada lapisan geopolitik yang lebih dalam.
Pertemuan dengan Putin di tengah ancaman blokade Hormuz juga memperlihatkan posisi Indonesia yang berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan besar dunia.
Jakarta tetap membuka komunikasi dengan Washington, tetapi pada saat yang sama memperkuat kanal strategis dengan Moskow.
Ini penting agar Indonesia tidak terseret terlalu jauh dalam polarisasi baru antara Barat, Rusia, dan dinamika Timur Tengah.
Jika pembicaraan di Kremlin menghasilkan kesepakatan energi konkret, maka kunjungan ini bisa menjadi salah satu langkah paling penting Prabowo dalam membangun ketahanan energi nasional berbasis diversifikasi sumber dan mitra global.
Di tengah dunia yang bergerak cepat menuju krisis, pesan politiknya jelas: *Indonesia tidak mau menjadi korban gejolak Hormuz, tetapi memilih menyiapkan jalur aman lebih dulu.*








