WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump kembali mengulangi klaimnya bahwa Washington menguasai Selat Hormuz bahkan kini sebut AS memilikinya. Hal ini disampaikan Trump setelah Tehran menyatakan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut sampai Washington memenuhi beberapa syarat, termasuk ganti rugi perang dan penghentian sanksi.
“We have total control over the Hormuz strait right now. They don’t have control. We have total control. We own it. And at some point maybe they’ll do something and then they get blown away ( Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz saat ini. Mereka tidak punya kendali. Kami memegang kendali penuh. Kami pemiliknya. Dan di satu titik mungkin mereka akan mencoba melakukan sesuatu, dan lalu mereka akan dihancurkan) ,” kata Trump seperti dikutip Al Jazeera Rabu (12/8/2026)
Menurut Trump, Washington berada di posisi yang sangat menguntungkan. Trump juga mengklaim telah membebaskan negara-negara teluk dari gangguan Iran.
“We have a country that has been the bully in the Middle East for 50 years. Really 51 if you think about it. Well we’ve been saying 47 for four years. And they’re no longer the bully in the Middle East. ( Kita menghadapi sebuah negara yang telah menjadi pengganggu (bully) di Timur Tengah selama 50 tahun. Sebenarnya 51 tahun jika Anda benar-benar memikirkannya, bukan? Kita telah menyebut angka 47 selama empat tahun. Dan mereka bukan lagi pengganggu di Timur Tengah),” lanjut Trump.
Sementara itu, dalam wawancara dengan media Iran, Perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran untuk badan keamanan tertinggi Mohsen Rezaei menegaskan bila Selat Hormuz tetap ditutup.
Rezaei telah menyampaikan syarat-syarat Tehran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Mohsen Rezaei mengatakan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup kecuali AS mengubah perilakunya dan menerima tuntutan Iran.
Ia menyatakan tuntutan tersebut mencakup penghentian perang, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian pertempuran di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon dan Gaza.
Mantan komandan Garda Revolusi juga menyatakan bahwa kesepakatan apa pun dengan Oman mengenai rute lintasan kapal melalui selat tersebut akan terpisah dari keputusan untuk membuka kembali jalur pelayaran itu sendiri. (Sumber: Al Jazeera)








