Ekonomi

Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu di Karawang Menjerit

×

Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu di Karawang Menjerit

Sebarkan artikel ini
Pengrajin Tahu Karawang
Pengrajin Tahu Karawang

KARAWANG – Dampak gejolak global mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan sejumlah komoditas impor, turut berdampak pada harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu.

‎Kondisi tersebut kini dikeluhkan para perajin tahu di Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Mereka mengaku harga kacang kedelai terus merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir, sehingga menekan biaya produksi dan membuat keuntungan usaha semakin menipis.

‎Salah satu perajin tahu, Ani Mulyani (47), mengatakan harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.200 per kilogram, kini melonjak menjadi sekitar Rp11.200 per kilogram.

‎“Berpengaruh sih, soalnya kalau kedelai naik, harga tahu mah masih tetap, belum bisa naik. Sekarang udah Rp11 ribu lebih, sebelumnya Rp9.200, sekarang sekitar Rp11.200. Kalau untuk pengiriman saat ini belum tahu ke depannya, bisa naik bisa turun. Tapi kalau untuk turun kadang-kadang susah,” ujar Ani saat ditemui di lokasi produksi.

‎Menurut Ani, lonjakan harga kedelai membuat para pengusaha tahu berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya bahan baku terus membengkak, namun di sisi lain mereka belum berani menaikkan harga jual karena khawatir konsumen tidak menerima.

‎“Belum, belum bisa naik harga jual. Untuk menyiasatinya juga bingung. Kalau dikecilin ukuran tahu juga susah, pedagang-pedagang belum tentu bisa menerima. Tahu kan beda dengan barang lain,” katanya.

‎Tak hanya kedelai, Ani juga mengeluhkan harga plastik kemasan yang ikut melonjak tajam. Kenaikan biaya kemasan dinilai semakin memperberat beban usaha rumahan yang selama ini mengandalkan margin tipis.

‎“Plastik sekarang juga jauh, kenaikannya dua kali lipat. Plastik tahu atau kresek sekarang mahal. Yang polos ada yang Rp34 ribu sampai Rp35 ribu per kilogram, kalau yang sudah cap sekarang sampai Rp65 ribu. Jadi sebenarnya bingung juga,” ungkapnya.

‎Dalam satu kali produksi, Ani mengaku bisa mengolah sekitar 5 hingga 6 kwintal kedelai. Sementara untuk kebutuhan stok, pembelian kedelai dalam jumlah besar pun hanya mampu bertahan beberapa hari.

‎“Kemarin 2,5 ton cuma buat 6 hari,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, dalam kondisi harga yang terus merangkak naik, tambahan biaya produksi per hari bahkan bisa mencapai Rp300 ribu. Kondisi itu membuat para perajin seolah hanya bekerja untuk menutup biaya operasional.

‎“Keuntungannya makin tipis. Kadang-kadang harga tahu murah, kita mah kerja bakti. Kecuali nanti kacang sudah turun lagi baru terasa,” katanya.

‎Ani menilai tren kenaikan harga kedelai saat ini berlangsung cepat, sementara penurunannya cenderung lambat. Ia pun khawatir harga masih akan terus bergerak naik dalam waktu dekat.

‎“Naiknya cepat, bisa sampai Rp300 per hari. Tapi kalau turunnya lambat. Prediksi masih naik, katanya masih terus, nggak tahu sampai berapa,” tuturnya.

‎Di tengah tekanan biaya produksi yang kian berat, para perajin berharap ada stabilisasi harga, baik untuk kedelai maupun bahan pendukung lainnya seperti plastik kemasan.

‎“Harapannya mudah-mudahan kacang segera turun, terus harga plastik juga bisa normal lagi. Karena berat buat kita semua. Harga tahu sampai sekarang tetap, belum bisa dinaikkan,” tandas Ani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *