BEIJING – Aksi militer Amerika Serikat yang menyerang dan menyita kapal kargo Iran menaikan ekalasi konflik di Selat Hormuz. Di saat genting, China dan Rusia kompak mendukung Iran.
Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan serius atas penggunaan kekuatan oleh Washington terhadap kapal tersebut.
“Situasi di Selat Hormuz sangat sensitif dan kompleks. Kami meminta semua pihak menahan diri dan tidak memperburuk ketegangan,” tegas juru bicara Kemenlu China, Guo Jiakun.
China juga mendesak agar jalur pelayaran internasional tetap terbuka dan aktivitas perdagangan global tidak terganggu.
Selain itu, Beijing meminta semua pihak menghormati gencatan senjata dan menghindari eskalasi konflik.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, guna membahas situasi terkini.
Moskow menyebut Teheran berkomitmen menjaga kelancaran jalur kapal dan kargo Rusia di Selat Hormuz.
Di tengah memanasnya situasi, analis geopolitik asal New York, Marco Vicenzino, menilai Iran sebenarnya tetap membuka ruang negosiasi.
Namun, Iran tidak ingin terlihat lemah di mata domestik maupun internasional.
“Iran akan terlihat enggan bernegosiasi, tapi itu strategi. Bukan emosional, melainkan langkah taktis,” ujarnya.
Menurutnya, Teheran memainkan “permainan panjang” dengan memanfaatkan waktu dan dukungan negara besar seperti China untuk menjaga posisi tawar.
Isu nuklir disebut tetap menjadi titik paling krusial yang menghambat kesepakatan.
Sejumlah opsi lama, termasuk penyimpanan material nuklir di negara ketiga, kembali mengemuka namun belum menemukan titik temu.
Situasi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik panas baru konflik global.
Jika tak dikelola dengan hati-hati, eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi meluas dengan kekuatan besar dunia China-Rusia terlibat langsung dalam konflik. (Sumber : AlJazeera)








