ISLAMABAD – Perundingan putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad terancam batal di tengah memanasnya situasi geopolitik. Terutama setelah insiden penembakan dan penyitaan kapal kargo Iran oleh AL AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan belum ada niat dari Teheran untuk kembali ke meja perundingan.
Dalam 24 jam terakhir, komunikasi intensif terjadi antara Iran dan Pakistan. Namun, hasilnya belum mampu mencairkan kebuntuan.
Araghchi menyoroti retorika ancaman serta serangan terhadap kapal komersial iran sebagai ganjalan terbesar proses diplomasi.
Situasi semakin rumit dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Insiden penyitaan kapal Iran oleh militer AS turut memperkeruh keadaan.
Sejumlah pejabat Iran, termasuk juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baqaei, menyebut situasi saat ini sangat sensitif dan berpotensi memicu eskalasi.
Bahkan, markas militer Iram, Khatamul al-Anbia mengindikasikan aksi balasan dalam waktu singkat.
Namun, serangan ditahan sementara untuk menghindari korban sipil, terutama awak kapal yang masih berada di lokasi.
Ketegangan ini menempatkan kawasan Teluk dalam posisi rawan, dengan potensi eskalasi atau de-eskalasi sangat bergantung pada perkembangan dalam hitungan jam ke depan.
Jika perundingan benar-benar batal, konflik terbuka antara kedua negara dikhawatirkan semakin sulit dihindari.








