WASHINGTON – Donald Trump kini menghadapi musuh yang lebih berbahaya daripada militer Iran: angka inflasi di meja makan Amerika. Sentimen publik terhadap operasi militer di Iran sedang berada di titik nadir.
Survei terbaru Gallup mencatat statistik yang mengerikan bagi petahana: 86% warga AS menyatakan tidak puas dengan arah kebijakan pemerintah saat ini. Angka ini bukan sekadar statistik kosong, melainkan sinyal “lampu merah” bagi Gedung Putih bahwa narasi patriotisme tidak lagi cukup untuk menutupi dompet yang kempis.
Data yang paling menghentak adalah eksodus dukungan dari internal loyalis. Hanya dalam hitungan bulan, kepuasan pemilih Partai Republik terhadap kinerja legislatif anjlok drastis dari 63% menjadi 20%.
Penurunan 43 poin ini mengindikasikan bahwa pemilih akar rumput Trump mulai merasa “dikhianati” oleh prioritas anggaran. Fokus Washington pada operasi militer di Selat Hormuz dianggap sebagai penyebab langsung meroketnya harga BBM, yang kini bahkan telah melampaui level tertinggi di era Joe Biden.
”Ini bukan lagi soal ideologi besar di Washington. Ini soal ekonomi privat—soal apa yang tersisa di piring keluarga saat makan malam,” tegas Rob Artlet, politisi partai Republik asal Deleware yang juga mantan perwira intelijen Angkatan Laut AS.
Memasuki minggu ketujuh, operasi militer ini gagal memberikan kemenangan cepat seperti yang dijanjikan. Alih-alih mengamankan jalur energi, konflik ini justru menyumbat distribusi minyak global, yang dampaknya langsung terasa di SPBU-SPBU Florida hingga Ohio.
Frustrasi ini merembet ke Capitol Hill. Senator Josh Hawley, yang biasanya menjadi sekutu tangguh Trump, mulai menunjukkan ketidaksabaran. “Perang ini sudah hampir 60 hari. Harapan saya konflik ini segera selesai,” ujarnya—sebuah pernyataan yang menyiratkan bahwa dukungan politik dari faksi kanan tidak lagi bersifat cek kosong.
Di sisi lain, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer memanfaatkan momentum ini untuk menggencarkan War Powers Resolution. Ancaman Schumer untuk mengajukan resolusi penghentian perang setiap minggu menciptakan tekanan politik yang membuat posisi Gedung Putih kian terjepit.
Konflik ini berada pada persimpangan jalan yang krusial. Secara strategis, Washington mungkin mengejar target jangka panjang seperti denuklirisasi Iran dan stabilitas jalur energi. Namun secara taktis, Trump sedang mempertaruhkan modal politiknya di tahun politik.
Rakyat Amerika sedang melakukan kalkulasi ulang: Apakah keamanan energi di masa depan sebanding dengan kebangkrutan ekonomi di masa sekarang?
Hingga saat ini, jawabannya condong pada “tidak”. Jika Trump tidak segera memberikan hasil nyata di lapangan atau setidaknya menstabilkan harga komoditas domestik, perang di Iran mungkin tidak akan berakhir di medan tempur, melainkan di kekalahan telak pada kotak suara. (Sumber : AlJazeera)







