BRUSSELS — Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz mulai mengguncang ekonomi Eropa. Lonjakan harga energi akibat konflik Iran-Amerika Serikat disebut memperparah tekanan ekonomi yang sebelumnya sudah terpukul perang Rusia-Ukraina.
Bruegel Senior Fellow, Guntram Wolff, mengatakan Eropa kini menghadapi dua gelombang krisis energi berturut-turut yang memberi tekanan besar terhadap sektor industri.
“Ekonomi Eropa memang sedang dalam kondisi buruk. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Eropa mengalami guncangan harga dan kelangkaan energi. Sekarang datang lagi krisis energi baru akibat Hormuz,” ujar Wolff dalam wawancara televisi internasional.
Menurutnya, industri Jerman selama puluhan tahun dibangun di atas fondasi energi murah dan sektor manufaktur intensif energi. Namun kombinasi krisis energi dan tekanan teknologi dari China kini memaksa Eropa melakukan transformasi ekonomi besar-besaran.
Di tengah situasi tersebut, harga minyak dunia kembali melonjak tajam. Minyak Brent bahkan sempat menembus level di atas 120 dolar AS per barel sebelum bergerak fluktuatif dalam dua bulan terakhir.
Kondisi semakin rumit setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC pada awal Mei 2026.
Wolff menilai arah harga minyak global kini sangat bergantung pada situasi Selat Hormuz yang telah terganggu hampir dua bulan.
“Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia tidak sampai ke konsumen karena Hormuz praktis tertutup. Itu membuat harga terus naik,” katanya.
Ia menjelaskan pasar energi global kini bergerak liar akibat ketidakpastian politik dan militer antara Iran dan Amerika Serikat. Setiap pernyataan dari kedua negara langsung memicu gejolak pasar.
“Ketidakpastian meningkat lagi. Banyak pelaku pasar khawatir penutupan Hormuz akan berlangsung lebih lama dari perkiraan,” ujarnya.
Meski tekanan terhadap Iran terus meningkat, Wolff menilai solusi militer bukan pilihan realistis untuk mengakhiri krisis.
“Saya lebih memilih kesepakatan yang buruk dengan Iran daripada harga minyak sangat tinggi yang menghancurkan ekonomi global,” tegasnya.
Krisis Hormuz kini dinilai bukan sekadar ancaman geopolitik Timur Tengah, tetapi juga bom ekonomi baru yang dapat memperdalam perlambatan ekonomi Eropa dan mengguncang pasar energi dunia.








