Internasional

Hormuz Meledak, Iran-AS Saling Serang Lagi

×

Hormuz Meledak, Iran-AS Saling Serang Lagi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi : Kapal Perang Meluncurkan Rudal

PARIS – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meledak setelah Iran dan Amerika Serikat saling melontarkan ancaman militer di tengah operasi pengawalan kapal dagang yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.

Situasi memanas menyusul rencana Washington menjalankan operasi “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di jalur strategis tersebut.

Namun, Teheran menegaskan tidak akan membiarkan kapal perang AS bebas masuk ke Selat Hormuz.

Analis keamanan internasional Emma Salisbury dalam wawancara dengan France 24 menyebut kondisi di Hormuz saat ini sangat berbahaya dan berpotensi memicu perang terbuka baru di Timur Tengah.

“Kita berada dalam situasi yang sangat berbahaya. AS ingin mengawal kapal keluar, sementara Iran menegaskan itu tidak akan diizinkan,” ujarnya, Senin (5/5/2026).

Ketegangan meningkat setelah laporan serangan terhadap kapal-kapal kargo di kawasan Hormuz serta rentetan rudal dan drone yang menghantam negara-negara Teluk.

Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab Abbas disebut mengklaim pihaknya berhasil mencegat 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang dituding berasal dari Iran.

Meski Iran sempat menyatakan tidak berniat menyerang UEA, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi terus meluas.

Emma Salisbury menilai Selat Hormuz kini menjadi alat tawar utama Iran dalam negosiasi dengan AS terkait sanksi dan program nuklir.

“Iran tidak punya insentif untuk membuka Hormuz begitu saja sebelum mendapatkan sesuatu dari AS dan Israel,” katanya.

Di sisi lain, Trump disebut belum puas dengan proposal terbaru Iran dalam perundingan yang dimediasi sejumlah negara kawasan.

Menurut Salisbury, Trump menginginkan kemenangan cepat, bukan hanya soal keamanan Hormuz, tetapi juga penghentian total ambisi nuklir Iran.

“Trump ingin semua diselesaikan sekaligus agar bisa menunjukkan kekuatan di panggung internasional maupun domestik,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus memunculkan pertanyaan baru terkait klaim lama Washington dan Israel yang sebelumnya menyebut serangan udara tahun lalu telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

“Kalau benar program nuklir Iran sudah dihancurkan, mengapa sekarang masih dinegosiasikan?” sindir Salisbury.

Ia juga menilai langkah militer AS justru memperkuat narasi pemerintah Iran bahwa Washington selama ini memang ingin menghancurkan Republik Islam tersebut.

“Trump tidak melakukan apa pun untuk membantah narasi Iran tentang Amerika sebagai musuh besar,” pungkasnya.

Konflik di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia karena jalur itu merupakan urat nadi distribusi energi global. Eskalasi di kawasan tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran krisis ekonomi internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *