MOSCOW – Ketegangan perang Rusia-Ukraina kembali mencapai titik didih. Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar sepanjang konflik dengan menghujani ibu kota Ukraina, Kiev, menggunakan rudal hipersonik Oreshnik, rudal balistik, serta ratusan drone tempur, Minggu dini hari, 24 Mei 2026.
Sedikitnya 90 rudal berbagai jenis, termasuk 36 rudal balistik, dan sekitar 600 drone serang dikerahkan Moskow dalam operasi yang disebut sebagai aksi balasan langsung atas perkembangan terbaru di garis depan perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan tersebut sebagai “teror terhadap kehidupan” setelah menghantam berbagai fasilitas sipil di Kiev dan wilayah sekitarnya.
“Empat orang tewas dan sekitar 100 lainnya terluka akibat serangan brutal ini,” ujar Zelenskyy dalam pernyataan resminya.
Rudal hipersonik Oreshnik dilaporkan menghantam sejumlah infrastruktur sipil, mulai dari jaringan air bersih, sekolah, apartemen, asrama mahasiswa, pusat perbelanjaan, pasar, hingga Museum Chornobyl yang baru dibangun.
Salah satu titik terdampak berada di Kota Bila Tserkva yang masuk wilayah administratif Kiev.
Yang paling mengkhawatirkan, sistem pertahanan udara Ukraina gagal mencegat seluruh rudal balistik yang diluncurkan Rusia. Angkatan Udara Ukraina bahkan sempat mengeluarkan peringatan dini beberapa menit sebelum serangan terjadi.
Oreshnik sendiri dikenal sebagai rudal balistik jarak menengah berkecepatan hipersonik yang diklaim mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
Situasi semakin panas setelah media pemerintah Rusia melaporkan adanya komunikasi langsung antara pihak Kiev dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio terkait ancaman serangan terbaru Moskow.
Kremlin bahkan meminta seluruh warga negara asing segera meninggalkan Kiev karena Rusia disebut akan membidik pusat komando militer, pangkalan udara, serta fasilitas industri pertahanan Ukraina.
Ancaman itu mengingatkan pada ultimatum Rusia awal bulan ini menjelang parade kemenangan Perang Dunia II di Moskow. Saat itu, Kremlin memperingatkan Ukraina agar tidak melakukan serangan ke wilayah Rusia, atau Kiev akan menerima balasan berupa serangan terhadap “pusat pengambilan keputusan”.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menegaskan pemerintahnya tidak akan tunduk terhadap tekanan Rusia.
“Tidak ada alasan untuk menyerah terhadap ancaman dan pemerasan Rusia,” tegas Sybiha.
Meski suasana Kiev makin mencekam, belum terlihat eksodus besar-besaran warga maupun diplomat asing dari ibu kota Ukraina tersebut. Sejumlah kantor kedutaan juga masih tetap beroperasi normal.
Namun warga Kiev kini hidup dalam kewaspadaan tinggi. Sirene serangan udara terus menjadi alarm keseharian menyusul intensitas serangan Rusia yang meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah memanasnya perang Rusia-Ukraina, perhatian dunia juga tertuju pada pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang disebut-sebut tengah diarahkan untuk meredakan ketegangan geopolitik global.




