TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait setelah wilayah Bandar Abbas, Iran selatan, dihantam serangan udara, Kamis dini hari waktu setempat.
Media pemerintah Iran melaporkan, sedikitnya tiga ledakan terdengar di sekitar Bandar Abbas yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz. Ledakan itu diikuti aktivasi sistem pertahanan udara Iran untuk menghadapi ancaman rudal dan drone.
IRGC menyebut serangan tersebut merupakan respons langsung atas agresi militer Amerika Serikat di sekitar Bandara Bandar Abbas.
“Pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan telah menjadi target balasan pada pukul 04.50 pagi,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran.
Militer Kuwait membenarkan sistem pertahanan udaranya mencegat rudal dan drone yang disebut sebagai ancaman udara di wilayahnya. Namun Kuwait tidak secara resmi menyebut Iran sebagai sumber serangan.
Sementara itu, pejabat militer Amerika Serikat mengklaim sebelumnya telah menembak jatuh sejumlah drone Iran di sekitar Selat Hormuz dan menyerang fasilitas kendali drone Iran di Bandar Abbas yang disebut mengancam jalur pelayaran internasional.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran juga memamerkan puing rudal buatan Amerika Serikat yang diklaim gagal meledak usai menghantam wilayah Iran. Rudal itu diperlihatkan kepada publik di Nishapur sebagai simbol propaganda perlawanan Teheran terhadap Washington.
Situasi terbaru ini menambah panas konflik di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Pengamat menilai, setiap eskalasi militer di kawasan tersebut berpotensi mengguncang stabilitas energi global dan memicu lonjakan harga minyak internasional.




