WASHINGTON – Pemerintah Pakistan mengumumkan terobosan penting dalam negosiasi panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Perdana Menteri Shabbir Sharif menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan damai setelah pembicaraan intensif, dengan deklarasi pemutusan operasi militer permanen di semua front, termasuk di Lebanon.
Namun, penandatanganan resmi yang awalnya akan dilakukan secara virtual hari ini dipindahkan ke Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Keputusan ini mengikuti tekanan diplomatik yang intens, termasuk upaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menggagalkan kesepakatan.
“Kedua belah pihak telah menyetujui Memorandum Pemahaman (MoU). Sejumlah pertemuan pra-implementasi akan berlangsung minggu ini untuk meletakkan fondasi bagi pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi,” kata Sharif dalam pernyataannya yang dikutip media internasional, Kamis (19/6/2026).
Netanyahu Coba Sabotase
Pengunduran waktu penandatanganan langsung terkait dengan intervensi Netanyahu, yang tampak berusaha menggagalkan kesepakatan pada hari ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump. Strategi Netanyahu dianggap upaya serius untuk menggagalkan momentum negosiasi yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Koresonden Gedung Putih Kimberly Halcud menyampaikan analisis kritis terhadap perkembangan ini.
“Donald Trump awalnya menetapkan batas waktu untuk penandatanganan virtual. Namun, upaya Netanyahu berhasil menggoyahkan rencana tersebut. Apa yang kita lihat sekarang adalah bahasa diplomatik yang rumit untuk menyembunyikan fakta bahwa penandatanganan virtual tidak akan terjadi hari ini. Ini sekadar membeli waktu beberapa hari lagi,” ujar Halcud.
Peran Krusial Pakistan dan Qatar
Pakistan dan Qatar muncul sebagai mediator yang memainkan peran vital dalam menyelamatkan kesepakatan. Kedua negara memberikan “lifeline diplomatik” untuk menjaga momentum negosiasi tetap hidup meskipun tekanan internasional.
Koresonden di Doha, Sourish Javed, menegaskan bahwa upaya mediasi frenetik telah berbuah hasil beberapa kali. Sebelumnya, penghentian kebakaran (ceasefire) yang diumumkan ketika Menteri Luar Negeri Antony Blinken bertemu dengan penasihat keamanan J.D. Vance juga melalui mediasi serupa.
“Meskipun ada banyak ketidakpercayaan antara kedua belah pihak, faktanya adalah ada kesepakatan yang sekarang sudah ditempatkan. Dewan Keamanan Nasional Iran telah memberikan suaranya untuk mendukung momentum ini. Ini memberi impetus lebih bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih konkret dan dapat diandalkan,” ujar Javed.
Dukungan dari Garis Keras Iran
Breakthrough penting datang dari dukungan Dewan Keamanan Nasional Iran terhadap kesepakatan. Sebelumnya, elemen garis keras Iran menolak keras setiap kesepakatan dengan Amerika Serikat. Namun, kini mereka memberikan dukungan, memperkuat posisi negosiator Iran di meja perundingan.
Presiden Trump diduga akan mengirim Wakil Presiden untuk hadir dalam pertemuan pra-implementasi minggu ini dan kemungkinan untuk menandatangani MoU di Switzerland, bukan Trump sendiri. Keputusan ini menunjukkan bahwa penandatanganan virtual yang awalnya direncanakan tidak dapat tercapai.
Fase Berikutnya: 60 Hari Negosiasi Nuklir
Setelah penandatanganan MoU pada 19 Juni, fase penting berikutnya dimulai—negosiasi teknis selama 60 hari. Periode ini akan menentukan detail kesepakatan nuklir komprehensif antara kedua belah pihak, termasuk pembongkaran program nuklir Iran, pelepasan dana beku, dan pembukaan Selat Hormuz.
Halcud menekankan bahwa apa yang sedang terjadi adalah Gedung Putih bekerja sama dengan mediator Pakistan untuk “membeli waktu” guna mencapai penandatanganan MoU pada Jumat pekan depan.
“White House, dengan bantuan Pakistan, sedang membeli waktu untuk mencapai penandatanganan Memorandum Pemahaman pada Jumat dengan mengatakan bahwa upacara resmi baru akan dilaksanakan pada tanggal itu,” katanya.
Jalan Panjang Masih Terbentang
Meskipun kesepakatan telah tercapai, perjalanan menuju perjanjian nuklir final masih penuh tantangan. Ketidakpercayaan yang dalam antara Amerika dan Iran, serta kepentingan pihak ketiga seperti Israel, masih menjadi hambatan signifikan.
Namun, pencapaian ini menandai momentum positif setelah puluhan kali upaya negosiasi gagal dalam beberapa tahun terakhir. Peran Pakistan dan Qatar dalam menyelamatkan kesepakatan di saat-saat kritis menunjukkan pentingnya mediasi pihak ketiga yang netral dalam diplomasi internasional. (Sumber : AlJazeera)




