DOHA – Kesepakatan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan berada di ambang kehancuran total. Situasi regional kian membara setelah Teheran meluncurkan serangan balasan yang secara sengaja membidik pangkalan militer Washington di sejumlah negara kawasan Teluk.
Direktur Program Studi Timur Tengah di George Washington University, Sina Azodi, menilai bahwa ketegangan ini dipicu oleh ketidakpercayaan mendalam yang telah berlangsung selama 47 tahun. Meski Presiden Donald Trump mengklaim nota kesepahaman (MOU) telah berakhir, belum ada pembatalan resmi terkait *serangan balasan* geopolitik tersebut.
“Clashes (bentrokan) ini sebenarnya sudah bisa diprediksi karena sifat dokumen MOU yang sangat samar sejak awal dibuat,” ujar Sina Azodi dalam wawancara eksklusif, Jumat (10/7/2026).
Sementara itu, Pengamat Studi Kawasan Islam dari Waseda University, Abdullah Baabood, mengecam keras langkah Teheran yang menjadikan geografi Teluk sebagai sandera perang. Menurutnya, *serangan balasan* Iran ke wilayah tetangga yang menampung pangkalan militer AS adalah bentuk pelanggaran kedaulatan yang nyata.
“Iran menggunakan dalih pangkalan militer AS untuk membenarkan serangan balasan mereka. Namun, tindakan agresif ini justru merugikan kepentingan jangka panjang Teheran karena memicu antipati publik dan politik dari negara-negara Teluk,” tegas Abdullah Baabood.




