ARLINGTON – Keberhasilan Spanyol melaju ke partai puncak menyisakan catatan taktik yang menarik untuk dibedah. Spanyol sukses membungkam Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 pada babak semifinal Piala Dunia 2026 di AT & T Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Rabu (15/7) dini hari WIB. Laga ini menjadi bukti sahih keunggulan efisiensi strategi penguasaan bola.
Sisi unik yang luput dari sorotan adalah bagaimana skuad La Furia Roja memenangi laga lewat efektivitas aliran bola, meski kalah agresif dalam melepaskan ancaman. Berdasarkan statistik resmi pascapertandingan, Prancis sebenarnya tampil lebih meledak-ledak dengan melepaskan total 14 tembakan. Namun, lini serang Les Bleus yang dipimpin Kylian Mbappe tampil tidak klinis di depan gawang.
Sebaliknya, skuad La Furia Roja bermain jauh lebih sabar dan presisi. Anak asuh Luis de la Fuente mendominasi lini tengah dengan mencatatkan 487 total operan, di mana 422 di antaranya merupakan operan akurat. Aliran bola konstan ini berhasil meredam agresivitas Prancis yang hanya mampu membalas lewat 408 total operan sepanjang 90 menit laga berjalan.
Keunggulan taktik skuad La Furia Roja mulai membuahkan hasil pada menit ke-20 setelah Lamine Yamal dilanggar Lucas Digne di area terlarang. Mikel Oyarzabal yang maju sebagai algojo penalti tanpa cela menaklukkan Mike Maignan pada menit ke-22. Keunggulan tersebut membuat Spanyol semakin nyaman mendikte tempo permainan melalui umpan-umpan pendek mereka.
Prancis semakin frustrasi setelah bek tengah andalan mereka, William Saliba, harus ditarik keluar akibat cedera pada menit ke-30. Puncaknya terjadi di babak kedua ketika Pedro Porro ikut naik membantu serangan dan mencetak gol kedua pada menit ke-58 memanfaatkan umpan Dani Olmo. Efisiensi umpan Spanyol terbukti menjadi kunci utama untuk meredam 14 tembakan frustrasi armada Didier Deschamps hingga peluit panjang berbunyi.




