DUBAI – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah makin membara setelah kelompok Ansar Allah atau Houthi dari Yaman resmi mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal Arab Saudi. Embargo yang menyasar jalur perdagangan utama di Selat Bab el Mandeb diumumkan Juru bicara militer gerakan Houthi Yaman (Ansar Allah) saat ini adalah Brigadir Jenderal Yahya Saree sebagai balasan atas blokade bertahun-tahun yang dilakukan Saudi terhadap wilayah kekuasaan Houthi.
Analis senior dari Royal United Services Institute (RUSI), Michael Stephens, menilai aksi penutupan Selat Bab el Mandeb tidak lepas dari pengaruh Teheran. Langkah berani Houthi ini berpotensi menjadi pesan balasan Iran kepada koalisi usai kegagalan gencatan senjata, sekaligus bentuk eskalasi serangan yang selaras dengan konflik Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan ini mengancam stabilitas pasokan energi dunia karena kawasan Selat Bab el Mandeb merupakan urat nadi ekspor minyak utama Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu. Upaya militer dan kampanye pemboman oleh Amerika Serikat diprediksi tidak akan mampu membuka kembali jalur vital tersebut, mengingat kelompok Houthi justru terbukti semakin tangguh dan kebal terhadap gempuran udara.
Blokade total di kawasan Selat Bab el Mandeb kini menuai kecaman keras dari negara-negara tetangga, termasuk Qatar, karena berpotensi melumpuhkan ekonomi kawasan. Jika jalur pelayaran internasional ini benar-benar lumpuh, dampak ekonomi global tidak terhindarkan dan dipastikan memicu krisis pasokan serta lonjakan harga minyak secara masif.




