Internasional

Menteri Pertahanan AS Dicecar Para Senator: Perang Iran Tanpa Izin, Tanpa Out Put Jelas !

×

Menteri Pertahanan AS Dicecar Para Senator: Perang Iran Tanpa Izin, Tanpa Out Put Jelas !

Sebarkan artikel ini
Hegseth
Heboh di Senat AS! Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebut Iran lemah militernya, tapi Senator Jack Reed marah besar. Biaya perang membengkak 37,5 miliar

WASHINGTON D.C.  – Sidang dengar pendapat Komite Senat Amerika Serikat memanas pada Selasa (21/7/2026) saat membahas anggaran dan legalitas operasi militer terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menghadapi interogasi ketat dari para senator Demokrat mengenai lonjakan biaya perang yang mencapai angka fantastis. Dalam keterangannya, Hegseth mengakui bahwa total pengeluaran untuk aspek tertentu, gaji militer, serta operasional dan pemeliharaan (O&M) hingga 30 September mendatang telah menyentuh angka 37,5 miliar. Angka ini menjadi sorotan utama mengingat ketidakpastian hasil strategis dari kampanye militer tersebut.

Ketegangan semakin memuncak ketika Senator Patty Murray mempertanyakan konsistensi klaim pemerintah. Ia menyoroti kontradiksi antara pernyataan sebelumnya yang menyatakan kemampuan militer Iran “secara fungsional hancur” tiga bulan lalu, dengan kenyataan bahwa Teheran masih mampu melakukan serangan balasan yang mematikan akhir pekan lalu.

Menanggapi hal ini, Pete Hegseth bersikeras bahwa Iran saat ini berada pada titik terlemahnya secara militer dalam satu dekade terakhir. Namun, argumen ini tidak sepenuhnya meredam kekhawatiran anggota senat terkait eskalasi konflik yang terus berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas.

Senator Jack Reed dari Rhode Island melontarkan kritik pedas kepada Pete Hegseth. Ia menuduh kepala Pentagon tersebut gagal memberikan informasi lengkap kepada Presiden mengenai risiko penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dunia. Reed menekankan bahwa kegagalan intelijen ini berujung pada tewasnya beberapa prajurit AS.

Alih-alih meminta maaf, Hegseth justru membelaki Presiden Trump, menyebutnya pantas dipuji karena memiliki keberanian mencegah kelompok radikal memiliki senjata nuklir, terlepas dari tantangan berat yang dihadapi selama operasi berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Respons Hegseth tersebut semakin memicu kemarahan Senator Reed. Dengan nada tinggi, Reed bertanya apakah Presiden seharusnya dipuji karena memulai perang tanpa wewenang kongres, merusak ekonomi global, dan memaksa petani AS meminta bantuan dana tambahan akibat dampak perang dagang dan energi. “Kita tidak melihat hasil realistis apa pun,” tegas Reed.

Debat sengit ini mencerminkan perpecahan mendalam di Washington mengenai strategi luar negeri agresif yang ditempuh administrasi saat ini, di mana Pete Hegseth tetap pada pendiriannya bahwa tekanan maksimal adalah satu-satunya jalan untuk menjamin keamanan nasional AS di tengah ancaman nuklir Iran.