TASIKMALAYA – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya akhirnya melakukan penanganan terhadap kondisi memprihatinkan Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk yang selama ini dipenuhi lubang berbahaya. Pada Kamis (30/7/2026), petugas mulai melaksanakan pemeliharaan rutin berupa penambalan titik-titik rusak di kawasan pusat perdagangan tersebut. Langkah ini diambil sebagai solusi sementara untuk mengurangi risiko kecelakaan dan menjaga kelancaran arus kendaraan, sembari menunggu kepastian anggaran untuk rehabilitasi total yang membutuhkan dana fantastis sebesar Rp15,4 miliar.
Staf Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUTR, Heri Wibowo, menjelaskan bahwa pekerjaan pemeliharaan ini telah direncanakan sejak awal tahun dan dilaksanakan bertahap sesuai skala prioritas kerusakan. Target penyelesaian adalah dua hari dengan luas penanganan sekitar 150 meter persegi, mencakup area dari Pertigaan Arjawinangun hingga Jalan Paseh jalur dua. Untuk memastikan daya tahan lebih baik di tengah kondisi tanah yang sering jenuh air, dinas menggunakan metode Cement Treated Base (CTB). “Kami gunakan CTB supaya lebih kuat karena tanahnya rawan genangan. Ini berbeda dengan hotmix biasa,” ujar Heri saat memantau lokasi Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk.
Meski perbaikan sudah dimulai, warga dan pedagang masih menaruh harapan besar pada rekonstruksi menyeluruh. Ade Siti Nurjanah (56), seorang pedagang setempat, mengaku kerap waswas saat hujan turun karena lubang tertutup genangan air yang membahayakan pengendara, terutama di malam hari. “Lubangnya tidak kelihatan, jadi sering membahayakan. Mudah-mudahan setelah ditambal bisa awet,” keluhnya. Ia mendesak pemerintah agar segera merealisasikan rehabilitasi total agar aktivitas distribusi barang dan kenyamanan pengguna jalan di Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk dapat terjamin secara permanen, mengingat intensitas lalu lintas truk dan angkutan barang yang sangat padat setiap harinya.
Hingga saat ini, Detail Engineering Design (DED) untuk rehabilitasi total Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk sebenarnya sudah tersedia sejak 2025. Namun, ketiadaan sumber pembiayaan membuat realisasi proyek besar tersebut diperkirakan baru bisa dilakukan paling cepat pada 2027. Selama masa penantian ini, Pemkot Tasikmalaya berkomitmen terus melakukan pemeliharaan rutin agar kerusakan tidak semakin meluas. Sinergi antara perawatan berkala dan perencanaan anggaran jangka panjang menjadi kunci agar infrastruktur vital di pusat ekonomi kota ini tetap layak pakai dan aman bagi seluruh masyarakat.




