LONDON – Crystal Palace memasuki musim 2026/2027 dengan status berbeda. Setelah menorehkan sejarah dengan meraih trofi Eropa pertama, The Eagles kini dihadapkan pada tantangan mempertahankan momentum sekaligus membangun skuad yang lebih kompetitif di tengah ketatnya regulasi finansial UEFA.
Crystal Palace menjuarai UEFA Conference League 2025/2026 setelah mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di Leipzig. Gol tunggal Jean-Philippe Mateta memastikan trofi Eropa pertama sepanjang sejarah klub.
Kesuksesan tersebut melanjutkan momentum positif Palace setelah sebelumnya menjuarai Piala FA. Raihan trofi Conference League juga memastikan klub mendapatkan tiket otomatis tampil di Liga Europa 2026/2027.
Namun, perjalanan Palace di Premier League musim lalu tidak terlalu mengesankan. Konsentrasi yang terbagi antara kompetisi domestik dan Eropa membuat mereka hanya finis di posisi ke-15 dengan koleksi 45 poin dari 11 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 15 kekalahan.
Pierre Sage Gantikan Glasner
Menghadapi musim baru, perubahan besar terjadi di kursi kepelatihan. Oliver Glasner meninggalkan posisi manajer dan digantikan pelatih asal Prancis, Pierre Sage.
Sage kini menghadapi tugas berat. Selain mempertahankan karakter permainan Palace, ia harus mampu mengelola skuad yang akan menjalani jadwal lebih padat karena tampil di Liga Europa.
Situasi tersebut juga diperumit regulasi finansial UEFA, termasuk Squad Cost Ratio, yang membuat klub harus cermat mengatur komposisi pemain dan pengeluaran.
Palace Aktif di Bursa Transfer
Crystal Palace juga melakukan perombakan skuad pada musim panas 2026. Sejumlah pemain dilepas untuk menyeimbangkan neraca keuangan sekaligus memberikan ruang bagi pemain baru.
Di antara pemain yang didatangkan adalah Matías Soulé dari AS Roma dengan nilai transfer sekitar £39 juta, Ben Doak dari Liverpool (£22 juta), serta Mihajlo Cvetković dari FK Čukarički (£12 juta).
Palace juga menambah opsi di lini belakang melalui Takehiro Tomiyasu dan Óscar Mingueza yang didatangkan dengan status bebas transfer.
Sementara itu, Zavier Gozo dari Real Salt Lake disebut berada dalam proses finalisasi kepindahan dengan nilai sekitar £11 juta.
Dari sisi pemain keluar, Palace kehilangan sejumlah pemain penting. Maxence Lacroix pindah ke Chelsea dengan nilai sekitar £52 juta, Eddie Nketiah bergabung dengan Leeds United (£30 juta), sedangkan Chris Richards dilepas ke Everton (£27 juta).
Odsonne Édouard juga meninggalkan klub untuk bergabung dengan Lille.
Kepergian Lacroix dan Richards membuat sektor pertahanan menjadi pekerjaan rumah terbesar Pierre Sage. Palace membutuhkan tambahan bek tengah berkualitas untuk memperkuat sistem tiga bek yang menjadi salah satu opsi utama mereka.
Pilar Utama Dipertahankan
Meski melakukan perombakan cukup besar, Palace masih mempertahankan sejumlah pemain penting.
Marc Guéhi tetap menjadi salah satu fondasi lini belakang. Di lini tengah terdapat Adam Wharton dan Eberechi Eze, sementara Jean-Philippe Mateta masih menjadi tumpuan utama di lini depan.
Kombinasi pemain lama dan rekrutan baru tersebut diharapkan mampu membuat Palace lebih kompetitif di Premier League sekaligus tidak sekadar menjadi pelengkap di Liga Europa.
Musim 2026/2027 akan menjadi ujian penting bagi Crystal Palace. Setelah menciptakan sejarah di Eropa, The Eagles kini dituntut membuktikan bahwa kesuksesan tersebut bukan sekadar momentum sesaat.
Tantangan terbesar Pierre Sage adalah menjaga keseimbangan antara ambisi mempertahankan prestasi di kompetisi Eropa, memperbaiki posisi di Premier League, sekaligus memastikan perubahan skuad tidak menghilangkan identitas permainan yang membawa Palace meraih dua trofi dalam dua musim terakhir.




