BANDUNG – Kawasan Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, teridentifikasi memiliki potensi penurunan tanah relatif tinggi akibat likuifaksi berdasarkan hasil riset kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan British Geological Survey (BGS).
Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian selama dua tahun yang dilakukan BRIN melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG), ITB, dan BGS. Hasil riset dipaparkan dalam kegiatan “Public Exhibition: Setanah Tak Diam” di Selasar Soenaryo Art Space, Kabupaten Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Penelitian ini menegaskan bahwa risiko bencana geologis di kawasan Cekungan Bandung tidak hanya berkaitan dengan aktivitas Sesar Lembang. Guncangan gempa kuat juga berpotensi memicu likuifaksi pada wilayah dengan karakteristik tanah tertentu.
Simulasi Gempa Magnitudo 6,8
Untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaan, tim peneliti melakukan pemboran teknik di sembilan titik yang tersebar di kawasan Cekungan Bandung, terutama di wilayah Kabupaten Bandung.
Sampel dan data hasil pemboran kemudian dianalisis menggunakan metode Standard Penetration Test (SPT). Metode tersebut digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan tanah, termasuk kedalaman, ketebalan, serta tingkat kepadatan material pasir yang menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian potensi likuifaksi.
Berdasarkan pemodelan ilmiah, sejumlah kawasan di Cekungan Bandung memiliki karakteristik tanah yang berpotensi mengalami penurunan ketika diguncang gempa dengan intensitas tertentu.
Dalam simulasi skenario gempa berkekuatan magnitudo 6,8 dengan percepatan tanah lebih dari 0,2 g, penurunan permukaan tanah akibat likuifaksi secara lokal berpotensi mencapai sekitar 40 sentimeter.
Kepala PRKG BRIN, Adrin Tohari, mengatakan tingkat potensi likuifaksi di Cekungan Bandung tidak sama pada setiap wilayah.
“Salah satu wilayah yang menunjukkan potensi penurunan relatif tinggi adalah Desa Tegalluar di Kecamatan Bojongsoang. Sebaliknya, hasil analisis pada Desa Padamukti di Kecamatan Solokanjeruk menunjukkan potensi likuifaksi yang lebih rendah,” ujar Adrin dalam wawancara melalui telepon, Jumat (11/9/2026).
Belum Menjadi Peta Kerawanan Final
Meski menemukan adanya perbedaan potensi antarwilayah, Adrin menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut belum dapat dijadikan gambaran final mengenai seluruh tingkat kerawanan likuifaksi di Cekungan Bandung.
Menurutnya, penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memperkuat basis data dan menghasilkan peta mikrozonasi yang lebih detail.
“Hasil riset tersebut masih memerlukan penguatan data untuk menghasilkan pemetaan yang lebih detail. Variasi jenis, ketebalan, dan kepadatan lapisan tanah di Cekungan Bandung menjadi faktor penting dalam penyusunan peta mikrozonasi,” katanya.
Potensi likuifaksi di Cekungan Bandung berkaitan dengan karakteristik geologi kawasan yang terbentuk dari endapan Danau Purba Bandung. Secara umum, lapisan bawah permukaan kawasan tersebut tersusun atas material lempung dan pasir.
Pada lokasi tertentu, lapisan pasir relatif lepas, belum mengalami pemadatan sempurna, dan berada dalam kondisi jenuh air. Kombinasi karakteristik tersebut dapat meningkatkan potensi likuifaksi ketika tanah menerima guncangan gempa yang cukup kuat.
Saat gempa terjadi, tekanan air pori pada lapisan tanah dapat meningkat. Akibatnya, material pasir yang semula memiliki kemampuan menahan beban dapat kehilangan sebagian kekuatannya dan berperilaku menyerupai material cair. Fenomena tersebut dikenal sebagai likuifaksi dan dapat menyebabkan penurunan maupun deformasi permukaan tanah.
Penting bagi Perencanaan Pembangunan
Temuan mengenai Tegalluar menjadi perhatian karena kawasan tersebut berkembang pesat dan termasuk wilayah strategis di Kabupaten Bandung. Informasi mengenai karakteristik tanah dan potensi bahaya geologi diperlukan sebagai bagian dari perencanaan pembangunan serta penyusunan strategi mitigasi bencana.
Namun, potensi penurunan hingga sekitar 40 sentimeter merupakan hasil pemodelan berdasarkan skenario gempa tertentu. Angka tersebut bukan prediksi bahwa penurunan dengan besaran yang sama pasti akan terjadi.
Peneliti masih membutuhkan data yang lebih luas dan terperinci untuk mengetahui variasi tingkat kerawanan pada setiap lokasi.
Penguatan riset melalui pemetaan mikrozonasi diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih presisi mengenai wilayah dengan potensi likuifaksi tinggi, sedang, dan rendah. Peta tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah serta pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan mitigasi bencana di kawasan Cekungan Bandung.




