Peristiwa

Sarimukti Kritis! Zona 5 Penuh 9 Bulan Lebih Cepat

×

Sarimukti Kritis! Zona 5 Penuh 9 Bulan Lebih Cepat

Sebarkan artikel ini
Tumpukan sampah setinggi 17 meter di Zona 5 TPA Sarimukti Bandung Barat yang diprediksi penuh November 2026.
Tumpukan sampah setinggi 17 meter di Zona 5 TPA Sarimukti Bandung Barat yang diprediksi penuh November 2026.

BANDUNG – Ancaman krisis sampah kembali menghantui Bandung Raya. TPPAS Sarimukti diprediksi kehabisan kapasitas jauh lebih cepat dari perhitungan awal.

Kepala UPTD TPA Sarimukti Arief mengungkapkan Zona 5, andalan utama pembuangan sampah regional, bakal penuh pada November 2026. Proyeksi itu meleset sembilan bulan dari desain awal yang semula bertahan hingga Agustus 2027.

Penyebabnya bukan sekadar lonjakan volume. Pemadatan yang tidak maksimal akibat keterbatasan alat berat membuat ruang tampung tergerus lebih cepat. Sejumlah daerah pun masih mengirim sampah melebihi kuota yang ditetapkan.

Saat ini Zona 5 berkapasitas 700 ribu ton itu telah terisi sekitar 560 ribu ton atau 80 persen. Ketinggian timbunan menembus 16–17 meter, mendekati batas desain 20 meter. Artinya, hanya tersisa 20 persen ruang untuk menampung residu harian.

Beban makin berat lantaran Bandung Raya memproduksi sekitar 5.000 ton sampah per hari. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan pemangkasan 20 persen dari sumber atau sekitar 1.000 ton per hari sebelum masuk Sarimukti.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan pemprov tengah mengupayakan penambahan ruang tampung melalui pemadatan berteknologi aman. Kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) dilibatkan karena timbunan menghasilkan gas metana yang wajib diperhitungkan.

Tidak hanya menambah kapasitas, Pemprov Jabar mendorong pemanfaatan TPS 3R, pemilahan, pengolahan refuse derived fuel (RDF), pengomposan, dan budidaya maggot. Namun fasilitas itu hanya optimal jika sampah telah dipilah sejak rumah.

Kota Bandung menjadi pihak paling terdampak. Hingga kini kota itu belum memiliki TPA sendiri dan masih bergantung pada Sarimukti untuk menangani sebagian besar residunya. Pembatasan kapasitas berpotensi meningkatkan tekanan sistem persampahan dalam kota.

UPTD Sarimukti menyiapkan langkah transisi: peningkatan pemadatan, optimalisasi area tersisa, dan kemungkinan pemanfaatan kembali zona tertentu. Opsi lain mencakup pirolisis, RDF, landfill mining, dan pemanfaatan gas timbunan.

Solusi jangka panjang bertumpu pada TPPAS Legok Nangka. Pemprov menargetkan Sarimukti bertahan hingga akhir 2029 sembari menunggu fasilitas pengolahan berbasis energi itu beroperasi penuh. Tanpa percepatan, darurat sampah tinggal menunggu waktu.