BANDUNG – Persib Bandung harus puas bermain imbang 2-2 saat bertandang ke markas Dewa United FC. Hasil ini membuat Maung Bandung menempati peringkat ke-8 klasemen sementara Liga Super dengan 7 poin dari empat laga: dua menang, satu seri, satu kalah. Persib vs Dewa United ini menyisakan luka mendalam bagi Bobotoh.
Sepanjang awal musim, lini serang Persib cukup produktif dengan 8 gol, meski lini pertahanan kebobolan 6 kali. Selisih gol surplus 2. Persib memiliki poin sama dengan Persik Kediri di peringkat ketujuh, namun kalah produktivitas selisih gol, dan hanya terpaut dua angka dari zona empat besar yang dipegang Madura United. Puncak klasemen dikuasai Persija Jakarta dengan 12 poin penuh, disusul Dewa United dengan 11 poin.
Namun sorotan utama justru datang dari kontroversi VAR Persib di masa tambahan waktu babak kedua. Pada menit 90+2, terjadi kemelut di dalam kotak penalti Dewa United yang diduga kuat melibatkan pelanggaran handball oleh pemain bertahan tim tamu. Wasit sempat meninjau insiden ini melalui pengecekan VAR, namun akhirnya membatalkan potensi penalti. Keputusan itu membuat skuad Persib geram di lapangan.
Sepanjang babak kedua, kepemimpinan wasit dinilai kurang tegas oleh kubu tuan rumah dalam momen-momen krusial. Protes berulang kali dilayangkan pemain di lapangan. Pemain pengganti Dewa United, Alexis Messidoro, sempat diganjar kartu kuning pada menit ke-87 akibat ketegangan yang meningkat menjelang akhir laga.
Polemik pascapertandingan pun meledak. Jagat media sosial dipenuhi kritik tajam dari Bobotoh yang mempertanyakan efektivitas dan transparansi implementasi teknologi VAR. Kontroversi VAR Persib dinilai merugikan momentum kebangkitan dramatis Maung Bandung. Para penggawa Persib juga secara terbuka menunjukkan gestur protes kepada perangkat pertandingan sesaat setelah laga usai.
Persib vs Dewa United menjadi pengingat bahwa teknologi tidak selalu menyelesaikan masalah—kadang justru melahirkan polemik baru. Kontroversi VAR Persib pun menuntut evaluasi serius dari Komite Wasit PSSI, agar keadilan di lapangan tidak lagi menjadi barang mahal bagi tim yang berjuang mati-matian.




