BANDUNG – Sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi mencapai wilayah Jawa Barat berdasarkan pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Temuan ini memicu kekhawatiran warga soal kualitas udara Bandung, meski asap di atmosfer tak otomatis berarti udara di permukaan tercemar.
Citra satelit Himawari pada Jumat (16/10/2026) pukul 13.00 WIB menunjukkan asap karhutla Bandung dan sekitarnya terdeteksi bersama Banten, DKI Jakarta, serta Jawa Timur. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan asap di Jawa bagian barat berasal dari karhutla di Sumatra dan Kalimantan yang terbawa dinamika angin.
Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi BMKG Kelas I Bandung, Muhammad Iid Mujtahidin, menegaskan citra satelit hanya merekam sebaran asap di atmosfer. Karena itu, kualitas udara Bandung harus dinilai lewat data pengukuran setempat, bukan sekadar pantauan satelit.
Pada Sabtu (17/10/2026), BMKG melaporkan sebaran asap mulai bergerak menjauh dari Jawa Barat. Pemantauan pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB memperlihatkan pergeseran bertahap, meski sisa asap masih terdeteksi di pesisir barat Banten pada ketinggian 3–5,4 kilometer.
BMKG mencatat 478 titik panas berkepercayaan tinggi sepanjang 16 Oktober 2026. Sumatra Selatan terbanyak dengan 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik dan Papua Selatan 63 titik, yang menjadi pemicu asap karhutla Bandung terbawa hingga selatan Jawa.
Meski begitu, partikel halus karhutla tetap berpotensi mengganggu kesehatan jika konsentrasinya meningkat. Warga diminta memantau kualitas udara Bandung melalui kanal resmi BMKG dan dinas lingkungan hidup sebagai acuan utama.
Jika udara dinyatakan tidak sehat, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker N95 atau KN95 dapat dipertimbangkan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela saat udara luar tercemar serta menghindari pembakaran sampah. Bila muncul sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan memburuk, segera cari pertolongan medis terdekat.
BMKG mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap perubahan atmosfer. Informasi soal asap karhutla Bandung dan kualitas udara Bandung harus merujuk pada pengukuran resmi, bukan sekadar citra satelit.




