Peristiwa

Santri Bukan Generasi Muda Kelas Dua, Tapi Ujung Tombak Bangsa!

×

Santri Bukan Generasi Muda Kelas Dua, Tapi Ujung Tombak Bangsa!

Sebarkan artikel ini
Ribuan santri melantunkan sholawat bersama dalam puncak peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Pusdai Islamic Center Sumedang, Kamis (23/10/2026).
Ribuan santri melantunkan sholawat bersama dalam puncak peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Pusdai Islamic Center Sumedang, Kamis (23/10/2026).

SUMEDANG – Suasana khusyuk dan penuh berkah menyelimuti Lapangan Pusdai Islamic Center Sumedang pada Kamis malam (23/10/2026). Ribuan santri dari berbagai penjuru daerah memadati lokasi untuk menghadiri puncak peringatan Hari Santri Nasional tingkat kabupaten yang bertajuk Sumedang Bersholawat.

Acara akbar tersebut turut dihadiri pendakwah kenamaan Gus Aldi, Bupati Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aldila, serta jajaran ulama dan tokoh agama setempat. Bupati menilai kehadiran ribuan santri tanpa mengharap imbalan materi ini sebagai wujud ketulusan murni demi memperingati hari bersejarah umat Islam.

Bupati Dony menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya karena setiap langkah santri menuju majelis ilmu diyakini dicatat sebagai amal kebaikan oleh Allah SWT. Lantunan sholawat dan doa yang dipanjatkan bersama-sama malam itu diharapkan menjadi perantara turunnya rahmat serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.

Dalam sambutannya, Dony menegaskan bahwa santri tidak boleh merasa menjadi generasi kedua yang tersisih dari sejarah bangsa ini. Ia menyerukan agar para santri bangkit dan menyadari bahwa posisi mereka sangat strategis dalam menentukan masa depan Indonesia yang lebih baik di kancah global.

Menghadapi era modernisasi yang kian pesat, Bupati mengingatkan bahwa tantangan santri kini semakin kompleks dan beragam dibandingkan masa lalu. Berbagai ancaman sosial mulai dari judi online, pinjol ilegal, narkoba, miras, hedonisme, hingga intoleransi dan radikalisme harus dihadapi dengan benteng iman yang kuat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dony menilai bangsa ini sangat membutuhkan generasi unggul yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan moralitas yang luhur. Karakter santri yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, serta menguasai teknologi namun tetap beradab dianggap sebagai kunci utama menjawab tantangan zaman.

Menutup sambutannya, Dony memberikan pesan mendalam agar para santri tetap rendah hati dan memegang teguh jati diri di mana pun berada. Santri didorong untuk terus maju dan modern, namun tetap berakar kuat pada nilai agama dan budaya sebagai fondasi hidupnya.

Kegiatan akbar ini ditutup dengan lantunan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan keberkahan bagi seluruh warga Sumedang. Harapannya, peringatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi momentum penguatan peran santri dalam pembangunan negeri.

Turut hadir dalam majelis tersebut sejumlah pejabat daerah dan perwakilan organisasi keagamaan yang memberikan dukungan penuh terhadap jalannya acara. Sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan karakter bangsa berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.

Melalui momen Sumedang Bersholawat ini, Pemkab Sumedang berkomitmen untuk terus memperkuat pendidikan keagamaan dan kemandirian pesantren. Diharapkan lahir generasi santri yang tidak hanya alim secara ilmu, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan negara.