JAKARTA – Sebanyak 69 aplikasi pemerintah resmi berstatus go live di Pusat Data Nasional hingga September 2026. Di saat yang sama, sebanyak 28 juta pelanggan seluler telah menyelesaikan registrasi berbasis biometrik pada akhir September 2026.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menempatkan penguatan infrastruktur, identitas digital, pengawasan platform, dan literasi masyarakat sebagai fondasi utama. Staf Ahli Menteri Komdigi Raden Wijaya Kusumawardhana menyampaikan hal ini dalam ajang National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Ekosistem pusat data nasional kini telah dimanfaatkan oleh lebih dari 490 tenan dari berbagai instansi pemerintahan. Layanan ini telah memasuki tahap operasional untuk aplikasi dengan tingkat risiko rendah, menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pemerintah digital.
Kepercayaan terhadap identitas digital diperkuat melalui verifikasi biometrik pengenalan wajah sesuai Peraturan Menteri Komdigi Nomor 7 Tahun 2026. Meski 28 juta pelanggan telah registrasi, angka ini masih perlu ditingkatkan mengingat besarnya populasi pengguna seluler di Indonesia.
Pengawasan platform juga menjadi fokus utama dalam membangun Ketahanan Digital Komdigi. Sepanjang periode 20 Oktober 2024 hingga 11 September 2026, pihaknya telah menangani 5,15 juta konten negatif, termasuk sekitar 4 juta konten perjudian online.
Pemerintah juga memperkuat tanggung jawab platform terhadap keselamatan anak melalui penerbitan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini memastikan ruang digital yang aman dan tepercaya bagi generasi muda, sekaligus mempersempit ruang gerak konten negatif.
Di sisi pengembangan kapasitas masyarakat, program literasi digital telah menjangkau sekitar 5,7 juta orang. Lebih dari 870 ribu peserta juga telah menyelesaikan pelatihan Digital Talent Scholarship dan Microskill secara kumulatif hingga September 2026.
Wijaya menekankan bahwa pembangunan ketahanan digital tidak cukup diukur dari jumlah infrastruktur atau aplikasi semata. Keberhasilan transformasi digital sangat ditentukan oleh kemampuan layanan untuk tetap beroperasi saat menghadapi gangguan, serta tingginya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan teknologi.
“Keamanan membangun kepercayaan, sementara ketahanan memastikan kepercayaan tersebut tidak langsung hilang ketika terjadi gangguan,” katanya. Pendekatan ini sejalan dengan tiga pilar transformasi digital Kemkomdigi, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.
Untuk memperkuat ketahanan tersebut, Kemkomdigi mengajak seluruh pemangku kepentingan menerapkan prinsip security by design dan resilience by design. Kolaborasi ini melibatkan BSSN, pemerintah, industri, akademisi, serta masyarakat dalam pendekatan cyber governance yang kolaboratif.




