Ketegangan geopolitik global kembali meningkat tajam menyusul penumpukan armada militer Amerika Serikat, Iran, China, dan Rusia di kawasan strategis Selat Hormuz dan Teluk Oman. Situasi ini kian memicu kekhawatiran eskalasi konflik terbuka di jalur laut vital perdagangan dunia.
Dalam beberapa hari ke depan, Iran, China, dan Rusia dipastikan akan menggelar latihan angkatan laut gabungan di perairan Teluk Oman dan Selat Hormuz. Manuver militer ini dipandang luas sebagai sinyal politik dan militer yang kuat di tengah memburuknya hubungan Washington–Teheran serta meningkatnya spekulasi rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Media resmi Iran, WANA, melaporkan latihan tersebut mencakup simulasi serangan maritim, pendaratan helikopter antar-kapal, penyelamatan kapal yang dibajak, latihan komunikasi tempur, formasi armada taktis, hingga evakuasi medis berbasis helikopter. Skala dan kompleksitas latihan menunjukkan peningkatan kualitas interoperabilitas militer ketiga negara.
Latihan ini juga mencatat sejarah penting sebagai kerja sama pertahanan multinasional pertama dalam kerangka BRICS. Blok geopolitik tersebut kini beranggotakan sepuluh negara: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Indonesia, Iran, Rusia, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kehadiran Iran sebagai anggota baru BRICS memberi dimensi strategis tambahan terhadap latihan ini.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka bersama Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terpisah juga melaksanakan latihan angkatan laut tembak langsung selama dua hari di Selat Hormuz. CENTCOM menegaskan latihan tersebut dilakukan “secara aman dan profesional”.
CENTCOM menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur laut internasional sekaligus koridor perdagangan global yang sangat vital. Setiap harinya, sekitar 100 kapal dagang melintasi selat sempit tersebut, mengangkut minyak dan komoditas strategis dunia.
Meski mengakui hak Iran untuk beroperasi di wilayah udara dan perairan internasional, CENTCOM mengeluarkan peringatan keras terhadap segala bentuk tindakan yang dinilai tidak profesional atau provokatif.
“Perilaku tidak aman atau salah kalkulasi di Selat Hormuz dapat memicu konsekuensi serius,” tegas CENTCOM.
Para pengamat menilai, tumpukan armada dan latihan militer yang saling berdekatan ini menjadikan Selat Hormuz sebagai titik panas geopolitik global, di mana kesalahan kecil dapat berujung pada konflik besar. Bagi dunia, kawasan ini bukan sekadar jalur laut, melainkan urat nadi energi dan stabilitas ekonomi internasional.








