Luapan Sungai Cilutung kembali merendam permukiman warga di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Kamis (12/2/2026). Hujan deras sejak Rabu malam menyebabkan tiga desa terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa.
Tiga desa yang terendam yakni Desa Darmawangi, Marongge, dan Tolengas. Data sementara mencatat Desa Darmawangi menjadi wilayah paling terdampak dengan 147 rumah terendam. Di Desa Marongge, 66 rumah ikut kebanjiran termasuk fasilitas umum seperti masjid, posyandu, dan PAUD. Sementara di Desa Tolengas tercatat 160 rumah terdampak.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama aparat Kecamatan Tomo langsung bergerak mengevakuasi warga ke lokasi aman. Beruntung, banjir tidak berlangsung lama karena air mulai surut sekitar satu jam setelah puncak genangan.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir yang meninjau lokasi menyebut penanganan darurat difokuskan pada keselamatan warga.
“Langkah pertama evakuasi korban agar tidak menimbulkan korban jiwa. Alhamdulillah cepat surut,” kata Dony di lokasi.
Meski demikian, kejadian berulang ini menunjukkan persoalan banjir di wilayah hilir Sungai Cilutung belum tertangani secara permanen. Pemerintah daerah mengakui diperlukan penanganan berlapis mulai dari hulu hingga hilir.
Menurut Dony, solusi jangka panjang akan dilakukan melalui rehabilitasi daerah aliran sungai serta reboisasi di kawasan hulu. Intensitas hujan tinggi dinilai hanya pemicu, sementara persoalan utama ada pada daya tampung sungai.
“Harus ada penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang supaya banjir tidak terjadi lagi. Dari hulunya akan dilakukan reboisasi dan penataan daerah aliran sungai,” ujarnya.
Ia juga meminta aparat wilayah menyiapkan prosedur tetap penanganan bencana banjir, termasuk jalur evakuasi warga agar respons lebih cepat saat kejadian terulang.
Keterlibatan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung akan difokuskan pada pembenahan struktur sungai dan pengendalian aliran air.
Peristiwa ini menambah daftar banjir musiman di kawasan Tomo yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi. Warga berharap solusi permanen segera dilakukan karena genangan air hampir selalu memasuki permukiman setiap musim hujan.








