Internasional

Israel-AS Serang Iran, Bulan Sabit Merah: 201 Orang Tewas, 747 Luka

×

Israel-AS Serang Iran, Bulan Sabit Merah: 201 Orang Tewas, 747 Luka

Sebarkan artikel ini
Tangkapan Layar Diplomat Iran di TV Al Jazeera

DUBAI— Eskalasi konflik Timur Tengah kian memanas setelah laporan Bulan Sabit Merah menyebut 201 warga sipil Iran tewas dan 747 lainnya luka akibat rangkaian serangan militer Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.

Laporan Al Jazeera menyebut korban jiwa terus bertambah, termasuk puluhan anak-anak dan tenaga pendidik yang menjadi korban serangan terhadap fasilitas sipil, salah satunya sekolah dasar di wilayah Iran.

Data terbaru Al Jazeera menyebut sedikitnya 86 orang tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah, menjadikannya salah satu insiden paling mematikan sejak konflik terbuka antara Iran dengan aliansi Israel-Amerika Serikat pecah.

Pengamat politik internasional dari Georgetown University di Qatar, Paul Pillar, menilai perang ini berpotensi menjadi konflik luar negeri paling tidak populer di kalangan publik Negeri Paman Sam dalam dua dekade terakhir.

Survei opini publik pada 23 Februari menunjukkan hanya sekitar 27 persen warga Amerika mendukung serangan militer terhadap Iran. Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibanding dukungan publik saat invasi Irak tahun 2003.

Paul Pillar menilai sejumlah faktor utama yang biasanya membuat perang mendapat legitimasi domestik justru tidak terlihat dalam konflik kali ini.

Tidak adanya persetujuan resmi Kongres, kecaman luas komunitas internasional, serta absennya justifikasi kemanusiaan disebut memperlemah dukungan politik terhadap operasi militer tersebut.

“Elemen yang membuat perang berkelanjutan secara politik hampir semuanya tidak ada,” ujar Pillar dalam diskusi yang dikutip Al Jazeera.
.
Di sisi lain, pengamat politik Doha Institute For Graduates Studies, Mohamad Elmasry, menilai keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melanjutkan operasi militer tidak lepas dari tekanan geopolitik dan hubungan strategis Washington dengan Israel.

Nama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali disebut sebagai tokoh yang selama bertahun-tahun mendorong kebijakan keras terhadap Iran, termasuk opsi konfrontasi militer langsung.

Sejumlah akademisi hubungan internasional bahkan menilai pengaruh lobi politik Israel di Washington menjadi faktor penting dalam pembentukan kebijakan luar negeri Amerika Serikat lintas pemerintahan.

Sementara itu, meningkatnya jumlah korban sipil memicu kecaman global dan memperbesar kekhawatiran akan krisis kemanusiaan berskala luas di kawasan Timur Tengah.

Organisasi kemanusiaan internasional mendesak penghentian segera serangan terhadap fasilitas sipil, mengingat sekolah, rumah sakit, serta kawasan permukiman dilaporkan turut terdampak operasi militer.

Para analis memperingatkan, tanpa jalur de-eskalasi diplomatik, konflik ini berisiko berkembang menjadi perang regional terbuka yang tidak hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga berdampak pada keamanan energi dan ekonomi global.

Hingga kini belum ada tanda jelas bahwa kedua pihak akan menurunkan tensi militer, sementara korban sipil terus bertambah di tengah operasi tempur yang masih berlangsung. (Sumber: Youtube Al Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *