TASIKMALAYA — Suasana Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kota Tasikmalaya tak hanya diwarnai silaturahmi, tetapi juga nuansa haru dan kekhusyukan melalui tradisi ziarah kubur.
Ribuan warga memadati sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU), salah satunya di TPU Cinehel, yang menjadi pusat aktivitas peziarah sejak pagi hingga sore, Sabtu (21/3/2026).
Arus peziarah terlihat terus mengalir dari berbagai penjuru. Mereka datang bersama keluarga, membawa bunga tabur dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang telah berpulang.
Memasuki siang hari, kepadatan kendaraan di sekitar lokasi sempat menyebabkan perlambatan lalu lintas. Namun kondisi tetap terkendali berkat pengaturan petugas di lapangan.
Di balik kekhidmatan ziarah, aktivitas ekonomi musiman turut menggeliat. Pedagang bunga, makanan ringan, hingga minuman berjejer di sepanjang akses menuju pemakaman. Sejumlah warga bahkan menyediakan jasa pembersihan makam, membantu peziarah merapikan pusara keluarga mereka.
Salah seorang peziarah, Rini Warlina (42), menyebut ziarah kubur sebagai tradisi yang tak terpisahkan dari momen Lebaran.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami menjaga ikatan batin dengan orang tua dan leluhur,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Arif Rahman (57), yang rutin berziarah setiap kali pulang kampung.
“Ziarah adalah bentuk bakti sekaligus pengingat bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya,” katanya.
Fenomena ini menegaskan bahwa Idulfitri bukan hanya tentang perayaan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga ruang refleksi spiritual. Di tengah kegembiraan Lebaran, ziarah menghadirkan dimensi kontemplatif yang menghubungkan yang hidup dengan yang telah tiada.
Tradisi ini pun menjadi cermin kuatnya nilai kekeluargaan dan spiritualitas masyarakat Tasikmalaya, yang terus terjaga di tengah perubahan zaman.








