Internasional

Panglima Angkatan Darat AS Dipecat Saat Perang dengan Iran Memuncak

×

Panglima Angkatan Darat AS Dipecat Saat Perang dengan Iran Memuncak

Sebarkan artikel ini
Chip of Staff US Army, Jenderal Randy George
Chip of Staff US Army, Jenderal Randy George

WASHINGTON — Di tengah memuncaknya perang antara Amerika Serikat dan Iran, terjadi gejolak serius di tubuh militer AS. Petinggi tertinggi Angkatan Darat AS dilaporkan dicopot secara mendadak dari jabatannya.

Randy George, yang menjabat sebagai Chief of Staff U.S. Army, diminta mundur dan langsung pensiun oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Langkah ini tergolong tidak biasa, mengingat George masih memiliki sisa masa jabatan dan tengah memimpin institusi militer di saat konflik aktif berlangsung.

Keputusan tersebut juga menjadi bagian dari perombakan besar di lingkungan militer AS khususnya Pentagon. Selain George, sejumlah perwira tinggi lain turut dicopot, menandakan adanya restrukturisasi kepemimpinan militer di tengah tekanan perang. ( Reuters)

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait alasan pencopotan tersebut. Namun sejumlah laporan menyebut langkah ini berkaitan dengan kebutuhan penyesuaian arah kebijakan militer dengan visi pemerintahan saat ini.

Sebagai pengganti sementara, posisi Kepala Staf Angkatan Darat diisi oleh Wakil Kepala Staf Jenderal Christopher LaNeve. (Reuters)

Pencopotan ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki pekan kelima, dengan ribuan target militer telah diserang dalam operasi gabungan AS di kawasan Timur Tengah.

Analis Militer AS, Rosiland Jordan menilai, langkah ini mencerminkan dinamika internal yang serius di tubuh militer AS. Pergantian mendadak di level tertinggi saat perang berlangsung berpotensi memengaruhi stabilitas komando, sekaligus menunjukkan adanya tekanan politik dan strategis yang besar terhadap arah operasi militer.

Dengan situasi perang yang terus berkembang, perubahan kepemimpinan ini bisa menjadi indikator bahwa Washington tengah menyiapkan fase baru dalam strategi militernya terhadap Iran. Atau bisa jadi ada ketidakpuasan dari Presiden AS dan Menetri Pertahanannya atas progres perang di lapangan.