Ekonomi

Harga Plastik Melonjak, Pedagang Kecil di Kota Tasikmalaya Kian Terhimpit Biaya Operasional

13
×

Harga Plastik Melonjak, Pedagang Kecil di Kota Tasikmalaya Kian Terhimpit Biaya Operasional

Sebarkan artikel ini
Harga Plastik
Bahkan Pedagang Bakso Tahu Tasikmalaya Terimbas Kenaikan Harga Plastik

TASIKMALAYA – Kenaikan harga kantong plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan para pedagang kecil di Kota Tasikmalaya.

Lonjakan ini dinilai semakin menekan pelaku usaha mikro yang selama ini bergantung pada plastik untuk menunjang aktivitas jual beli sehari-hari.

Bagi pedagang kecil, kantong plastik bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam melayani pembeli.

Ketika harganya naik, dampaknya langsung terasa pada biaya operasional yang semakin membengkak.

Salah satu pedagang yang terdampak, Pupu Saepuloh (45), penjual baso tahu dan siomay, mengaku mulai menyiasati kondisi tersebut dengan mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke kertas bungkus nasi.

“Kalau beli plastik saya kurangi, sekarang pakai kertas bungkus nasi karena harganya belum naik seperti plastik,” ujar Pupu kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).

Meski begitu, langkah tersebut belum sepenuhnya mampu menekan biaya. Ia menyebut kenaikan harga plastik tetap berdampak pada keuntungan yang sebelumnya sudah tipis.

“Dengan kondisi seperti ini, keuntungan kami makin tergerus,” katanya.

Pupu juga mengungkapkan adanya kenaikan biaya belanja harian. Jika sebelumnya sekitar Rp400.000, kini meningkat menjadi sekitar Rp480.000. Sementara harga jual produk belum bisa dinaikkan.

“Jadi harus nambah uang belanja. Padahal jualan kadang ramai, kadang sepi, tapi harga masih bertahan,” paparnya.

Tak hanya plastik, bahan baku lain seperti kacang tanah untuk bumbu siomay juga ikut naik. Harga yang sebelumnya Rp30.000 kini mencapai Rp42.000.

“Kacang tanah juga naik, kemarin beli sudah Rp42.000,” ungkapnya.

Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga, terutama kebutuhan yang berkaitan langsung dengan aktivitas usaha mikro.

“Kami hanya berharap harga bisa kembali stabil, supaya pedagang kecil seperti kami tetap bisa bertahan,” harap Pupu.

Dalam kondisi saat ini, para pedagang mengaku semakin kesulitan. Bahkan, dalam situasi tertentu, mereka terpaksa menutup kekurangan dari modal pribadi saat penjualan sedang sepi.

“Kalau terus begini, kami makin repot. Kadang juga harus nombok kalau jualan sepi,” tambahnya.

Kondisi serupa juga dirasakan Cucu (55), penjual cilok, yang mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar akibat kenaikan harga plastik dalam dua pekan terakhir.

“Sekarang harga plastik memang naik. Kami pedagang kecil tentu sangat terasa,” kata Cucu saat ditemui pada hari yang sama.

Ia merinci, harga plastik ukuran 10×15 yang sebelumnya Rp3.000 kini naik menjadi Rp4.000 per pak. Ukuran 12×25 naik dari Rp4.000 menjadi Rp5.000, sedangkan kantong kresek ukuran 16 naik dari Rp6.000 menjadi Rp7.000 per pak.

Meski mengalami kenaikan, Cucu mengaku belum bisa beralih dari penggunaan plastik karena alternatif lain dinilai kurang praktis.

“Masih pakai kantong plastik. Mau pakai daun pisang juga sulit dan tidak praktis,” ujarnya.

Selain plastik, ia juga menghadapi kenaikan bahan baku utama, yakni tepung tapioka (aci). Harga yang sebelumnya Rp9.000 per kilogram kini naik menjadi Rp9.500.

“Selain plastik, aci juga naik. Saya biasanya belanja hampir 8 kilogram, jadi pengeluaran makin besar,” jelasnya.

Akibat kenaikan tersebut, biaya belanja harian yang sebelumnya sekitar Rp100.000 kini melonjak hingga Rp150.000.

“Dulu Rp100.000 cukup untuk belanja, sekarang bisa sampai Rp150.000. Otomatis keuntungan jadi makin tipis,” pungkasnya.

Foto: Pupu Saepuloh (45), pedagang baso tahu dan siomay, saat melayani pembeli. (Ist)