Nasional

Profil dan Kepemilikan PT Toba Pulp Lestari yang Sedang Jadi Sorotan Publik

115
×

Profil dan Kepemilikan PT Toba Pulp Lestari yang Sedang Jadi Sorotan Publik

Sebarkan artikel ini
PT. Toba Pulp Lestari
PT Toba Pulp Lestari

PT Toba Pulp Lestari kembali menjadi sorotan warganet setelah berbagai pembahasan muncul di media sosial. Di tengah tingginya perhatian publik, perusahaan yang berdiri sejak 1983 ini menarik minat banyak pihak, terutama terkait struktur kepemilikan dan perjalanan usahanya. Berikut profil lengkap serta siapa pemilik PT Toba Pulp Lestari saat ini.

Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari?

PT Toba Pulp Lestari (TPL) telah mengalami beberapa kali perubahan pemegang saham. Pada masa awal berdirinya, perusahaan ini didirikan oleh pengusaha nasional Sukanto Tanoto di bawah nama PT Inti Indorayon Utama.

Kepemilikan kemudian bergeser kepada Pinnacle Company Pte. Ltd. pada 2007, yang memegang saham mayoritas hingga akhir 2021.

Memasuki 2025, struktur kepemilikan kembali berubah. Allied Hill Limited, perusahaan investasi berbasis Hong Kong milik Everpro Investments Limited yang dikendalikan pengusaha Joseph Oetomo, resmi mengakuisisi 92,54% saham INRU. Nilai transaksi mencapai Rp555,8 miliar dengan harga Rp433 per saham, sementara 7,58% saham lainnya tetap dimiliki oleh publik.

TPL kini menjadi satu-satunya perusahaan industri pulp besar yang beroperasi di Provinsi Sumatera Utara.

Profil PT Toba Pulp Lestari

PT Toba Pulp Lestari Tbk didirikan pada 26 April 1983 dan mulai beroperasi secara komersial pada 1 April 1989. Perusahaan ini mengelola pabrik pulp berbahan baku kayu eukaliptus yang berlokasi di kawasan Sungai Asahan.

Pada 16 Mei 1990, perusahaan melakukan IPO di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya dengan kode saham INRU, yang juga digunakan hingga sekarang di Bursa Efek Indonesia.

Di masa awal, perusahaan memproduksi bubur kertas serta serat rayon. Namun operasionalnya tak lepas dari kontroversi, terutama konflik dengan masyarakat sekitar setelah runtuhnya Orde Baru.

Sejarah Konflik dan Penutupan Sementara

Pada 1999, bentrokan antara warga, pekerja, dan aparat menyebabkan korban jiwa sehingga Presiden BJ Habibie memerintahkan penghentian sementara serta audit lingkungan. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid, pemerintah sempat memutuskan perusahaan harus ditutup atau direlokasi, namun kemudian diberi izin beroperasi kembali dengan syarat menghentikan produksi rayon.

Pada 2000, perusahaan menghentikan operasinya dan mengubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk dalam RUPS 15 November 2000 sebagai bagian dari restrukturisasi menyeluruh. Pabrik kembali beroperasi pada 2003, dengan klaim penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Visi, Misi, dan Operasional Saat Ini

Sebagai produsen pulp yang memasarkan produknya ke pasar domestik dan internasional, TPL menetapkan visi menjadi pabrik pulp yang dikelola dengan baik dan menjadi penyedia pilihan bagi pelanggan.

Misi perusahaan mencakup komitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan, efisiensi biaya, peningkatan nilai pemegang saham, serta kontribusi sosial-ekonomi melalui pengembangan teknologi dan SDM.