Ekonomi

Fadli Zon Aktifkan Cagar Budaya, Sumedang Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Budaya

94
×

Fadli Zon Aktifkan Cagar Budaya, Sumedang Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Budaya

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang

Komitmen pemerintah pusat untuk menghidupkan kembali denyut sejarah di daerah ditegaskan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang, Sabtu (17/1/2026). Sejumlah situs cagar budaya strategis dipastikan akan diaktivasi dan direvitalisasi, bukan sekadar dilestarikan sebagai artefak mati, tetapi dijadikan kekuatan pembangunan berbasis kebudayaan.

Situs-situs yang menjadi perhatian antara lain Gunung Kunci, Gunung Palasari, Makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien, Makam Pangeran Sugih, serta sejumlah titik bersejarah lain yang dinilai layak naik status menjadi cagar budaya nasional.

“Gunung Kunci dan Gunung Palasari memiliki keterkaitan sejarah penting, termasuk dalam konteks Perang Dunia Kedua. Makam Cut Nyak Dien sebagai pahlawan nasional juga akan kita dorong menjadi cagar budaya nasional. Situs-situs ini akan kita revitalisasi agar hidup dan memberi manfaat nyata,” tegas Fadli Zon.

Tak berhenti di situs terbuka, Fadli juga menyoroti Keraton Sumedang Larang di Kompleks Gedung Negara Sumedang. Menurutnya, keraton ini menyimpan narasi sejarah besar yang selama ini belum dikemas secara kuat dan sistematis.

“Keraton Sumedang Larang menyimpan banyak peninggalan sejarah penting. Narasinya harus dihidupkan kembali dan dikenalkan secara nasional, bahkan internasional,” ujarnya.

Fadli secara khusus menyinggung Mahkota Binokasih sebagai mahakarya peradaban Sunda. Mahkota emas seberat sekitar delapan kilogram itu disebutnya sebagai simbol kejayaan dan kesinambungan sejarah politik Tatar Sunda.

“Ini masterpiece. Mahkota Binokasih menunjukkan bahwa kita pernah memiliki peradaban yang sangat maju dan makmur. Sejarahnya panjang, dari Pajajaran hingga Sumedang Larang sebagai penerus kerajaan pusat di Jawa Barat,” ungkapnya.

Lebih jauh, Fadli menegaskan paradigma baru kebijakan kebudayaan. Menurutnya, potensi budaya Sumedang tidak boleh berhenti pada perlindungan semata, melainkan harus masuk ke tahap pengembangan dan pemanfaatan ekonomi.

“Sesuai Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, warisan budaya harus menjadi ekonomi budaya dan industri budaya. Sumedang punya modal besar, termasuk warisan budaya tak benda. Kami akan kolaborasi dengan Pemda, Asosiasi Museum Indonesia, dan Balai Pelestarian Jawa Barat,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan daerahnya telah memiliki landasan kuat melalui Perda Nomor 1 Tahun 2020 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda.
“Merawat kebudayaan berarti merawat jati diri dan peradaban. Nilai budaya inilah yang menentukan arah masa depan Sumedang,” kata Dony.

Ia menambahkan, pembangunan Sumedang bertumpu pada tiga pilar utama: agama, budaya, dan teknologi. “Agama menuntun, budaya membumi, teknologi mengakselerasi. Semua kami orkestrasi dengan pendekatan pentahelix,” pungkasnya.