Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, membenarkan bahwa tiga pegawainya turut hilang bersama pesawat ATR 42-500 yang kini dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan. Ketiganya merupakan bagian dari tim air surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP.
“Benar terdapat pegawai KKP di dalam pesawat tersebut yang sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara,” ujar Menteri KKP dalam keterangan resmi, Sabtu malam.
Ketiga pegawai tersebut adalah Ferry Irawan, berpangkat Penata Muda Tingkat I dengan jabatan Analis Kapal Pengawas; Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I yang menjabat Pengelola Barang Milik Negara; serta Yoga Noval, yang bertugas sebagai Operator Foto Udara.
Pesawat yang dilaporkan hilang kontak itu merupakan ATR 42-500 yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport (IAT). Pesawat digunakan untuk mendukung operasi air surveillance di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), terutama di kawasan perbatasan laut.
Menteri KKP menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai instansi terkait untuk memantau perkembangan pencarian. Namun, ia menyerahkan sepenuhnya proses pencarian dan investigasi penyebab insiden kepada Basarnas, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), serta Kementerian Perhubungan.
“Terkait pencarian dan penyebab insiden, kami percayakan sepenuhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan PT Indonesia Air Transport memberikan klarifikasi terkait jumlah kru yang berada di dalam pesawat. Pihak IAT menegaskan bahwa kru yang on board berjumlah tujuh orang, bukan delapan seperti informasi awal.
“Kru pesawat terdiri dari tujuh orang, yakni Kapten Andi Dhananto, Muhammad Fahan Gunawan, Ristuardi, Timur Jono, Florentia Lolita, dan Esther Atalia,” ujar perwakilan manajemen IAT.
Pihak IAT juga menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut dan memastikan telah mengirimkan tim ke Makassar untuk berkoordinasi langsung dengan Basarnas dan pihak terkait dalam proses pencarian.
Menteri KKP menambahkan bahwa kerja sama air surveillance antara KKP dan Indonesia Air Transport telah berlangsung lama dan menjadi bagian penting dalam pengawasan laut Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
“Pengawasan udara ini krusial, terutama di wilayah perbatasan laut kita dengan negara tetangga. Hampir di seluruh wilayah Indonesia kami lakukan pengawasan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih berlangsung dan menjadi fokus utama seluruh pihak terkait.




