Internasional

Sanggar Tari Dewa Motekar Kota Tasikmalaya Kibarkan Budaya Sunda di Panggung Dunia

166
×

Sanggar Tari Dewa Motekar Kota Tasikmalaya Kibarkan Budaya Sunda di Panggung Dunia

Sebarkan artikel ini
Pelepasan Sanggar Seni Dewa Moteka
Pelepasan Sanggar Seni Dewa Motekar Oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, di halaman Kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporsbudpar) Kota Tasikmalaya.

Sanggar Tari Dewa Motekar kembali mengharumkan nama Kota Tasikmalaya dengan melangkah ke panggung seni internasional.

Kontingen seni budaya ini resmi dilepas untuk mengikuti Festival Cultural Exchange Internasional di Thailand, sebagai duta budaya yang membawa kekayaan seni Sunda ke hadapan dunia.

Prosesi pelepasan dilakukan langsung oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, di halaman Kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporsbudpar) Kota Tasikmalaya, Selasa (27/1/2026) pagi.

Keikutsertaan Sanggar Tari Dewa Motekar dalam ajang tersebut bukan sekadar tampil, melainkan mengemban misi strategis: memperkenalkan identitas budaya Indonesia, khususnya Sunda, sekaligus mempererat jejaring pertukaran budaya lintas negara.

Keberangkatan ke Thailand ini menjadi penampilan internasional kelima bagi Sanggar Tari Dewa Motekar. Seluruh partisipasi internasional tersebut difasilitasi melalui jalur Komite Kedutaan, menegaskan konsistensi dan reputasi sanggar ini di kancah seni dunia.

Pimpinan Sanggar Tari Dewa Motekar, Chris Novika Supardi, menegaskan bahwa setiap keikutsertaan selalu membawa semangat yang sama, yakni berkompetisi secara sehat sembari mempromosikan kekayaan budaya Nusantara.

“Pesertanya sekitar 20 sampai 30 negara. Negara-negara ASEAN hampir pasti hadir. Pada tahun-tahun sebelumnya ada Rusia, Polandia, hingga Korea Selatan. Tahun ini, insyaallah komposisinya juga sangat beragam,” ujar Chris usai upacara pelepasan.

Dalam festival tersebut, Sanggar Tari Dewa Motekar akan menampilkan ragam seni budaya Sunda, mulai dari peragaan busana adat jajaka dan mojang, hingga pertunjukan tari tradisional. Tiga repertoar unggulan telah dipersiapkan, yakni Ronggeng Kaladaru, Jaipong Jalatunda, serta Tari Saman.

Chris mengungkapkan, persaingan terberat selama ini kerap datang dari Filipina dan Thailand. Thailand dikenal unggul dari sisi properti dan tata panggung yang megah, sementara Filipina sering mengirim delegasi dari universitas seni ternama.

“Mereka datang dari jurusan seni, sementara kami berangkat sebagai pecinta seni. Tapi kami tetap optimistis. Targetnya, predikat best performance bisa kembali diraih dan dibawa pulang ke Kota Tasikmalaya,” tegasnya.

Festival budaya internasional ini akan digelar di Surindra Rajabhat University, Thailand, yang berjarak sekitar delapan jam perjalanan darat dari Bangkok.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan konsistensi para seniman yang terus membawa nama baik daerah di tingkat global.

“Mereka sudah lama mencetak nama baik Kota Tasikmalaya di luar negeri. Saya hormat kepada mereka. Jangan pernah mengira Tasik minim prestasi, karena banyak warganya dikenal hingga level internasional,” ungkapnya.

Diky Candra menambahkan, potensi seni dan budaya Tasikmalaya sangat besar dan tidak hanya terwakili oleh Sanggar Tari Dewa Motekar. Banyak kelompok seni tradisi, musisi, hingga atlet daerah yang telah menembus panggung dunia.

Ia menegaskan, peran pemerintah adalah memberikan dukungan moral agar para seniman tampil percaya diri membawa identitas daerah.

“Walaupun tidak selalu dalam bentuk anggaran, minimal kita hadir dan menyemangati. Pemerintah tidak boleh diam saat anak-anak daerah berjuang membawa nama kota,” katanya.

Lebih jauh, Diky Candra menekankan bahwa kekuatan utama sebuah karya seni tidak semata terletak pada teknik, melainkan pada ketulusan ekspresi dan kekompakan tim.

Dengan pengalaman internasional serta akar budaya lokal yang kuat, Sanggar Tari Dewa Motekar diharapkan mampu tampil tidak hanya memikat mata, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam di hati penonton dunia.

“Keyword-nya adalah kekompakan dan ekspresi. Karya seni yang lahir dari ketulusan selalu punya nilai lebih. Tasikmalaya ini seperti episentrum—jiwa seninya sangat kuat,” pungkasnya.

Adapun 11 perwakilan yang akan membawa misi budaya tersebut yakni:

1. Dinar Zaffarani Lesmana – SMPN 1 Tasikmalaya

2. Naisheila Putri Alhia (Ocha) – SMPN 1 Jatiwaras

3. Gelsi Sofa Latifa – SMPN 1 Tasikmalaya

4. Qurraru Aina – SMPN 1 Tasikmalaya

5. Laila Aisyah – SMPN 1 Tasikmalaya

6. Natasha Ramjana – Mahasiswi Universitas Siliwangi (Penjas/PJOK)

7. Marsya Auni Resnata – SMAN 5 Tasikmalaya

8. Nadindra Zahwalesha Putri – SMPN 2 Tasikmalaya

9. Alvia Galuh Rahayu – SMAN 1 Ciamis

10. Dhifaaf Tanisha Nur Husaini – SMPN 4 Tasikmalaya

11. Dyinan Rizkyandi, S.Pd