Nasional

Pesawat Smart Air Diserang, Pilot Dieksekusi di Papua Selatan

19
×

Pesawat Smart Air Diserang, Pilot Dieksekusi di Papua Selatan

Sebarkan artikel ini
Pesawat maskapai Smart Air Aviation yang ditembaki oleh KKB di Papua Selatan

Keheningan Kampung Danoage, Distrik Yani, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pecah oleh rentetan tembakan, Rabu siang. Pesawat Cessna milik PT Smart Air Aviation dengan nomor registrasi PK-SNR diberondong kelompok bersenjata sesaat setelah mendarat di Lapangan Terbang Korowai Batu.

Serangan brutal itu berujung tragis. Pilot dan kopilot pesawat Smart Air dilaporkan tewas setelah dikejar dan dieksekusi oleh pelaku.

Kapolres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana Putra membenarkan insiden berdarah tersebut. Pesawat yang terbang dari Tanah Merah membawa 13 penumpang tujuan Korowai Batu.

“Sesaat setelah roda pesawat menyentuh landasan, kelompok bersenjata langsung menghujani badan pesawat dengan tembakan,” ujar Wisnu saat dikonfirmasi, Rabu.

Dalam situasi mencekam, dua awak pesawat bersama 13 penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan melompat keluar dan berlari ke arah hutan sekitar bandara. Namun, para pelaku diduga memang mengincar awak pesawat.

Berbeda dengan para penumpang yang merupakan warga lokal dan tidak dikejar, kelompok bersenjata justru memburu pilot dan kopilot Smart Air hingga masuk ke dalam hutan. Setelah dilakukan penyisiran, keduanya ditemukan, lalu dibawa kembali ke lapangan terbang.

“Pilot dan kopilot dikejar oleh para pelaku, kemudian dibawa kembali dari dalam hutan ke lapangan terbang dan dieksekusi di sana,” tegas Wisnu.
Seluruh penumpang dipastikan selamat. “Penumpang aman karena mereka warga setempat,” tambahnya.

Hingga Rabu sore, pesawat PK-SNR masih tertahan di landasan Korowai Batu. Tingkat kerusakan akibat tembakan belum dapat dipastikan lantaran akses keamanan yang terbatas.

“Kami berharap tidak ada tindakan lanjutan terhadap pesawat Smart Air tersebut. Koordinasi terus dilakukan untuk langkah penanganan berikutnya,” kata Wisnu.

Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi konektivitas wilayah pedalaman Papua Selatan. Gangguan keamanan terhadap penerbangan perintis bukan hanya mengancam keselamatan awak, tetapi juga memutus jalur logistik masyarakat yang sepenuhnya bergantung pada transportasi udara.