TASIKMALAYA — Bulan suci Ramadan kembali menjadi ruang penguatan tradisi keilmuan Islam di Pondok Pesantren Miftahulhuda Jarnauziyyah, Jalan Jenderal AH Nasution, Sindangsari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Pesantren salafiyah tersebut menggelar rangkaian pasaran Ramadan serta program Ijazah Dakwah selama tiga hari tiga malam.
Kegiatan tahunan yang rutin dilaksanakan setiap Ramadan ini menjadi magnet bagi para santri, baik santri mukimin maupun santri mufasirin yang datang khusus untuk mengikuti pengajian intensif selama bulan suci.
Pimpinan Pesantren Miftahulhuda Jarnauziyyah, KH Yan-yan Al Bayani, menjelaskan bahwa selama tiga pekan pertama Ramadan, sejak 1 hingga 21 Ramadan, pesantren menyelenggarakan kajian tambahan yang berfokus pada pendalaman disiplin ilmu klasik pesantren.
Adapun kajian yang diberikan meliputi Ilmu Faroid (ilmu pembagian waris), Ilmu Falak atau hisab, serta Ilmu Arud yang berkaitan dengan seni pembacaan dan lagu nadhom.
“Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperdalam ilmu yang di luar bulan ini tidak selalu bisa dikaji secara intensif. Ini bagian dari penguatan khazanah keilmuan santri,” ujar KH Yan-yan Al Bayani kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, Ramadan bukan hanya madrasah spiritual, tetapi juga ruang pembentukan intelektual santri.
“Di bulan ini suasana batin lebih tenang, hati lebih bersih, sehingga proses penyerapan ilmu menjadi lebih optimal,” katanya.
Selain penguatan materi keilmuan, pesantren juga menghadirkan program khusus berupa Ijazah Da’wah Asror Lisan yang disertai pelatihan retorika dakwah. Program tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam pada 23 hingga 25 Ramadan.
Program ini dirancang untuk membentuk kader dai yang tidak hanya kuat secara substansi keilmuan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi dakwah yang bijak dan efektif di tengah masyarakat.
“Kami ingin santri bukan hanya alim secara ilmu, tetapi juga mampu menyampaikan dakwah dengan bahasa yang menyejukkan dan mudah diterima,” tambahnya.
Seluruh kegiatan berlangsung bersamaan dengan pengajian rutin harian yang membuat aktivitas santri selama Ramadan semakin padat. Meski demikian, suasana pesantren tetap hidup dengan semangat kebersamaan dan kedisiplinan khas tradisi salafiyah.
Kehidupan mandiri juga menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren. Dalam pemenuhan kebutuhan sahur dan berbuka puasa, para santri memasak secara bergiliran dalam kelompok kecil sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Melalui sistem ini, santri belajar tanggung jawab, kerja sama, serta kemandirian dalam kehidupan sehari-hari,” tutup KH Yan-yan.
Rangkaian pasaran Ramadan tersebut kembali menegaskan peran pesantren sebagai pusat transmisi ilmu, pembinaan akhlak, sekaligus penguatan tradisi dakwah Islam di Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai kota santri.








