TASIKMALAYA – Memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan, ulama Tasikmalaya Yan-yan Al Bayani mengajak umat Islam untuk memaksimalkan ibadah dan memperkuat kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Menurutnya, fase akhir Ramadan merupakan momentum istimewa yang dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amalan ibadah, sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad.
“Fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang mulai sibuk dengan persiapan Lebaran sehingga melupakan kesempatan ibadah yang sangat berharga di hari-hari terakhir Ramadan,” ujar Yan-yan dalam keterangan pers yang disampaikan Kamis (12/3).
Pimpinan Pondok Pesantren Miftahulhuda Jarnauziyyah Mangkubumi itu juga mengingatkan agar masyarakat memaknai malam takbiran sebagai momentum spiritual yang sakral.
Ia mengimbau umat Islam untuk menghidupkan malam tersebut dengan berkumpul di masjid, memperbanyak takbir, serta mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Sebaliknya, ia menyayangkan fenomena konvoi kendaraan di jalanan yang kerap terjadi pada malam takbiran karena dinilai berpotensi mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.
“Fenomena seperti ini seyogianya tidak dipertahankan. Justru pada sepuluh hari terakhir Ramadan Nabi menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah,” katanya.
Yan-yan juga menyoroti kondisi yang menurutnya cukup ironis di sebagian masyarakat, yakni adanya aktivitas berkumpul sambil mengonsumsi minuman keras pada malam takbiran.
Menurutnya, perilaku tersebut sangat bertentangan dengan makna malam kemenangan yang seharusnya diisi dengan rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT.
“Ada hal yang ironis terjadi di sebagian masyarakat kita. Malam takbiran yang semestinya menjadi momentum bersyukur dengan mengagungkan nama Allah, malah dijadikan ajang berkumpul sambil mabuk-mabukan,” paparnya.
Karena itu, ia berharap aparat penegak hukum, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, dapat meningkatkan pengawasan terhadap peredaran minuman keras menjelang malam takbiran.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kesucian momentum akhir Ramadan sekaligus mempertahankan citra Tasikmalaya sebagai kota santri.
“Kita perlu mewaspadai meningkatnya peredaran miras pada malam takbiran. Biasanya justru meningkat pada malam yang seharusnya menjadi puncak ibadah setelah sebulan penuh berpuasa,” pungkasnya.








