JAKARTA — Sidang debottlenecking yang dipimpin Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap tantangan nyata di balik megaproyek gas alam cair nasional di Blok Masela LNG Project.
Dalam dialog antara pemerintah dan kontraktor Purbaya tampak tidak percaya sepenuhnya pada paparan kontraktor—bahkan hanya senyum tipis—saat mendengar pengakuan bahwa proyek energi raksasa tersebut hanya menawarkan keuntungan yang sangat tipis.
Dalam pemaparannya, konsorsium kontraktor menjelaskan bahwa Masela dirancang menjadi proyek LNG berskala global dengan kapasitas produksi hampir dua kali lipat proyek LNG eksisting di Indonesia.
Pengembangan lapangan dilakukan melalui 11 sumur subsea yang dihubungkan ke fasilitas terapung FPSO untuk pemrosesan awal gas, sebelum dialirkan melalui pipa sepanjang 180 kilometer menuju fasilitas LNG darat di Pulau Yamdena, Maluku. Namun di balik ambisi besar tersebut, tantangan ekonomi justru semakin kompleks.
Purbaya Uji Kelayakan Proyek
Sebagai ‘hakim Sidang’ Purbaya berupaya mendalami prospek proyek dan kendala utama. ia juga menyoroti inti persoalan: daya saing dan profitabilitas proyek di tengah tekanan biaya global.
“Saya hanya ingin mengetahui apakah proyek ini benar-benar feasible dalam kalkulasi saat ini,” ujar Purbaya dalam dialog tersebut.
Pertanyaan itu dijawab oleh pihak kontraktor. Mereka mengaku proyek Masela secara internasional tergolong “marginal, very marginal.”
Kontraktor mengaku bahwa proyek tetap berpotensi menghasilkan keuntungan, tetapi sangat sensitif terhadap lonjakan biaya konstruksi, perubahan harga LNG dunia, maupun risiko geopolitik energi.
Menanggapi jawaban itu, Purbaya terlihat hanya mesem-mesem sebelum melanjutkan diskusi teknis mengenai dukungan pemerintah terhadap proyek.
Indonesia Bersaing dengan Raksasa Energi Dunia
Kontraktor juga menyebut bahwa tantangan Masela tidak semata persoalan domestik. Pihaknya kini sedang bersaing memeberikan ongkos pembangunan dan harga gas lebih murah dibanding proyek-proyek energi besar di United States dan kawasan Middle East.
Tingginya permintaan LNG dunia membuat perusahaan konstruksi migas internasional berada dalam kondisi over-demand, sehingga biaya pembangunan melonjak dan jadwal proyek semakin kompetitif.
Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar USD 20 miliar, berdasarkan estimasi awal yang masih berpotensi meningkat.
Clean LNG Jadi Syarat Pasar Global
Masela juga diposisikan sebagai proyek Clean LNG, dengan penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Emisi karbon hasil produksi akan dipisahkan dan diinjeksi kembali ke bawah laut guna memenuhi standar energi rendah karbon yang kini menjadi tuntutan utama pasar internasional.
Namun teknologi ramah lingkungan tersebut sekaligus menambah kompleksitas teknis dan kebutuhan modal proyek.
Pemerintah Siap Pangkas Regulasi
Dalam dialog tersebut, Purbaya menegaskan pemerintah membuka ruang penyesuaian regulasi guna memastikan proyek tetap kompetitif.
Ia bahkan meminta kontraktor menyampaikan langsung setiap hambatan yang berpotensi meningkatkan biaya produksi.
“Kalau ada yang menghambat bisnis atau menaikkan cost produksi, sampaikan. Pemerintah siap melakukan perubahan agar proyek ini kompetitif,” tegasnya.
Usai sidang itu, kepada awak media Purbaya menegaskan pihaknya berupaya memastikan eksekusi proyek Masela bisa lebih cepat dengan menghilangkan semua hambatan birokrasi dan regulasi.
Menkeu ingin proyek tersebut sudah memghasilkan gas lebih cepat. Dimajukan dari tahun 2030 jadi tahun 2029.
Selain itu penentuan harga juga harus efesien dan membantu daya saing industri Indonesia. Purbaya tak ingin keterlibatan perusahaan perantara membuat harga gas yang dibeli industri jadi mahal.








